‘Jalan yang Kita Pilih’

Oleh : Sutihat Rahayu Suadh

 

Bahagia itu selalu ada dan banyak macamnya, kita hanya perlu bersyukur dan menyadari bahwa kita selalu memilikinya–meski hanya dalam bentuk paling sederhana. Begitu kata orang-orang bijak.

Kamu tahu?

Dulu, saat melihatmu bahagia dari jauh, aku melanjutkan perjalananku. Entah apa yang aku cari, tapi kamu pergi atas kemauanmu sendiri, aku bisa apa.  Terluka, memang. Tapi setidaknya lebih baik daripada harus membencimu, bukan?

Aku ingin menganggapmu kisah lama yang perlahan aku ingin lupakan, meski aku belum bisa melakukannya. Ada perasaan sedih, saat kau mulai mengabaikan segalanya dan menganggapku hanya sesuatu dimana semuanya terasa lebih asing.

Tahun-tahun berlalu, hingga pada akhirnya aku putuskan untuk memaafkanmu dan membiarkanmu bahagia dengan jalanmu sendiri. Saat itu aku tahu, aku banyak menyakitimu setelah banyak berfikir. Kau benar, aku ini pemarah dan keras kepala.

Entah, awalnya aku fikir kita itu sama tapi aku berfikir kembali rasanya perbedaan diantara kita tak terjengkal.  Setelah enam tahun, kau masih orang yang sama dan aku pun begitu. Saat kau tiba-tiba datang ketika aku sudah beranjak dari masalalu. Aku benci mengingatnya karena ternyata bukan saja kita yang tak berubah, bukan saja memori tentangmu yang tiba-tiba saja menguap tapi juga rasa sakit yang sama. Barangkali aku belum bisa memaafkanmu, hingga aku masih sangat menyebalkan.

Aku merasa kau datang hanya karena tak ada pilihan lain. Meski aku lebih senang jika kau kembali karena menyesali keputusanmu dimasalalu. Aku selalu tulus padamu saat itu, dan sekarang, tapi aku selalu merasa kau tak pernah menghargainya.

Kupandang sebuah pohon dengan tatapan penuh kagum. Sebab, bagaimana bisa ia tetap berdiri tegak, sementara melihat dedaunan yang selama ini dipertahankannya, justru jatuh dan kemudian meninggalkan?  Atau, ini hanya salah satu cara semesta untuk mengajarkanku menjadi lebih kuat?

Barangkali jika ada kekacauan di poros bumi dan semua hal jadi terbalik, aku baru paham caramu yang mudah pergi. Pun, kamu kelak mengerti caraku yang keras kepala selalu menanti. Karena kamu selalu mudah menyerah, tak pernah ingin berusaha meyakinkan dirimu bahwa kau ingin bahagia bersamaku. Kau membuat keraguanku semakin jelas. Aku tidak tahu, sejauh mana aku bisa memahamimu. 

 

Menerimamu yang muncul tiba-tiba, dan menata hati ketika suatu hari kau kembali memutuskan untuk pergi, aku tidak bisa. Aku Seseorang dengan perasaan sekeras batu dan kamu dengan sikap sediam patung? Lalu bagaimana mungkin kita dapat memulai segala sesuatunya. Bahkan perasaan dulu masih belum bisa kutata dengan baik. Aku selalu bertanya padamu ‘Apa kau yakin’, dan pertanyaan semudah itu pun tak bisa kau jawab. 

Kau tahu apa yang aku pikirkan,

Jika bersamamu apa aku akan lebih bahagia? karena aku tak bisa kembali seperti dulu. Aku membatasi jarak kita, dan aku tak bisa menerima teman-temanmu, tak bisa berteman dengan mereka. Karena aku sungguh tak ingin mengingat masalalu, mengingat semua hal yang ingin aku lupakan. Kau menjadi pengecualian jika kau mau merubah situasi kita. Tapi jika tidak, kau akan tetap menjadi orang asing yang juga ingin aku lupakan seperti yang lain.

Jika kamu ada di posisiku, apa benar kamu tetap memilihku meski aku masih membutuhkan waktu untuk meyakinimu?  Yang perlu kamu tahu, tetap memilihmu bukanlah pilihan, itu keputusan.

Kamu yang putuskan, untuk tetap memilihku atau pergi dengan pilihan yang kau yakini. Aku hanya memberimu kesempatan sekali, tak ada kesempatan lain setelah ini. Jika setelah kita bertemu kemudian kembali memilih jalan yang berbeda, maka aku tak akan pernah memberimu jalan dan mengakhirinya dengan menaggap bahwa takdir kita hanya sebatas ketidakyakinan.

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s