Tulisan : Pertemuan dan Jodoh

 

 

Alloh sudah menggariskan padaku sebuah pertemuan, sebuah rasa, dan luka. Kini aku semakin yakin dengan janjinya, sekalipun doa itu ditempatkan dihati yang lain. Kau boleh pergi sekarang, aku akan melapaskanmu untuk sebentar menangis lalu aku akan tersenyum lega.

Pernikahanmu tinggal menghitung bulan, semuanya telah ditetapkan ketika beberapa hari lalu, kau mengkhitbah seorang wanita yang dipilihkan untukmu atau mungkin pilihan hatimu. Semua janji yang pernah kau ucapkan luruh hari itu. Aku tak bisa sepenuhnya menyalahkanmu ketika kau memilihnya untuk menggenapkan separuh agamamu.

 

Suatu kali kau pernah mengatakan hal-hal yang sebenarnya ingin aku dengar begitu lama. Kau mengatakan tentang perasaan yang juga diam-diam kau simpan untukku. Hari itu adalah hari yang paling sulit untukku, karena aku harus meminta hatiku untuk tidak terlalu bahagia.

Aku mengabaikan semua pengakuanmu, dan berharap tak mendengarnya. Aku terlalu takut dengan sekeping hati yang tak bermuara, mungkin ia akan tenggelam pada akhirnya. Cinta adalah kata-kata yang sakral, jadi tak ada yang bisa kukatakan selain memohon agar Alloh menjaga hati kita.

Perasaan itu tidak pernah menempati ruang yang sama, karena setiap saat tanpa sadar dia datang sebagai sesuatu yang membuat kita lemah. Boleh jadi sekuat apapun aku menahan perasaan, pada akhirnya aku harus menyerah. Cara terbaik adalah memohon yang kuasa tuk hangatkan kalbu yang mulai membeku.

Aku membuat jarak yang tak terjengkal diantara kita.

***
Setahun berlalu, kami memutuskan saling melupakan. Namun perasaan itu tak pernah terhapus, malah kurasakan semakin besar. Dan kau mulai menjalani hari-harimu begitupun denganku, kami tak ubahnya seperti orang yang tak pernah saling mengenal, terasa lebih asing.

Sampai suatu hari aku bertemu kembali denganmu disebuah acara seminar di salah satu kampus di kotaku. Aku melihatmu dalam balutan kemaja hitam yang membuatnya terlihat berbeda.

Selesai acara aku duduk dilobi depan gedung A disalah satu kampus bersama ratna teman seperjuanganku. Tiba-tiba saja kulihat kau datang menghampiriku bersama temanmu. .

“Apa kabar…?”sapanya
kudengar suara itu dihadapanku, kini kami hanya berjarak satu meter.

“Alhamdulillah…”jawabku

“Sudah lama tak bertemu..”

Aku hanya mengangguk.

Dua puluh menit, aku pamit pulang bersama ratna dan kau hanya menatapku hingga menghilang dari pandangan.

***

Sejak pertemuan hari itu, ada perasaan yang tak bisa kujelaskan. Walaupun masih dengan batasan-batasan yang selalu kupegang teguh. Kau selalu membuatku serba salah. Perhatian dan harapan-harapan tentang jodoh itu mulai membekukan otakku. Jika ditanya tentu hati ini akan menjawab, ingin bersamamu untuk menggenapkan separuh agamaku. Akupun ingin kau menjadi imamku, seseorang yang kelak akan mengecup keningku setelah kami selesai berdoa seusai sholat. Ya Alloh, ampunilah aku.

Sekali lagi kau bertanya, tentang perasaanku hari berikutnya. Tapi kali ini sikapmu menjadi begitu dingin. Aku selalu mengabaikan perasaanku, dan mengabaikanmu. Tanpa sadar sekeping perasaan itu menjadi kesedihan yang diam-diam kusembunyikan.

Sepulang halqoh, aku mengerjakan tugas-tugas yang menumpuk meminta untuk segera diselesaikan. Aku masih menempuh pendidikan disalah satu universitas swasta dikotaku, membantu mengurus usaha keluarga dan mengajar disalah satu rumah belajar yang aku dirikan. Saat sedang sibuk, handphoneku berdering, pertanda ada pesan yang masuk. Kubaca segera..

“Ran, doakan aku karena pada akhirnya aku akan meminang seorang muslimah yang kupilih untuk menggenapkan separuh dienku. Angga.”

Aku terdiam sebentar membaca pesannya. Benarkah, pada akhirnya aku harus kehilangannya begitu saja. Entahlah, tiba-tiba saja hatiku menjadi lebih sakit bahkan tangis itu tak bersuara. Berulang kali aku mengucap istigfar.
“Ya Alloh, mengapa perasaanku seperti ini..”
Aku segera mengambil wudhu, dan menenangkan hati. Memasuki waktu isya aku menyegerakan sholat. Setelah salam terakhir, butiran bening mengalir deras. Untuk pertama kalinya aku menangis dihadapan Tuhanku untuk seorang ikhwan. Ternyata perasaan itu tidak sesederhana dalam pikiranku, ternyata keikhlasan yang selalu aku bicarakan tidak pernah kutanam dalam hatiku. Aku belum sempat mengatakan apapun padanya, tentang hati yang bertahun-tahun merindukan pertemuan dengannya dalam ikrar.

“Semoga Alloh, melancarkan niat baikmu.” balasku seadanya

***

Waktu pernikahannya sudah begitu dekat, tinggal menghitung hari. Dalam hati yang keruh, aku memohon agar Alloh melapangkan hatiku, menjaganya, dan mengikhlaskan sekeping perasaan itu pergi.

Aku masih berjalan dalam setiap mimbar pilihan-pilihan yang mungkin pada akhirnya akan membawaku ketempat yang paling diam, ketempat yang paling sepi. Tapi ketika aku yakin dengan janjinya, aku masih ingin berproses menjadi baik. Dengan segenap hati, aku mohon jadikanlah ini sebagai penguat, bukan melemahkan.

Aku ingin kembali pada tujuan hidupku, menjadi bermanfaat bagi sesama dan memberikan ruang  untuk bersama-sama mengenal Tuhan. Setiap pertemuan memberikan kita pembelajaran, dan ketika dia pergi memberikan pembelajaran yang juga baik. “Karena jika sesuatu ditakdirkan untukmu, sampai kapanpun dia tak akan menjadi milik orang lain.”

 

Sutihat Rahayu Suadh, Selasa 2 Februari 2016

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s