Lelakiku

Oleh: Sutihat Rahayu Suadh

Lelakiku , tak pernahkah kau menyadari seperti apa hujan yang turun membasahi bumi kita. Bumi yang pernah kita pijaki dengan langkah pasti menuju musim berikutnya. Dalam butiran bening yang langit hadiahkan pada semesta. kita menari dimusim ini, dimana wangi tanah basah menguap satu-satu seperti harapan kita. Hasrat hati kita merekah bak bunga-bunga.

 

Lelakiku, Aku tercipta dari tulang rusukmu yang senantiasa kau jaga. Seperti aku yang berharap musim berikutnya kita masih bersama dalam naungan asmara yang agung, yang akan kita bawa pada altar suci pernikahan, dimana kita berjanji pada Tuhan untuk setia sampai maut memisahkan, dalam suka dan duka dalam susah dan senang dalam kebersamaan yang halal. 

 

Lelakiku, taukah kau hatiku masih terus bergemuruh dengan hebatnya. Gemercik keraguannya terdengar seperti hujan sore itu. Hatimu kini tak lagi utuh, ada dua ruang disana. Masihkah musim berikutnya harapan kita menjadi sebuah kenyataan yang indah. Aku ingin melakukan perjalanan ini bersamamu hingga hari-hari berikutnya. Masih bolehkah aku berharap hari itu bukan hanya mimpi yang kubangun dari harapan-harapan kosong. 

 

Lelakiku, Bukankah wanita itu hanya orang asing yang akan menghancurkan mimpi yang telah kita bangun dengan cinta yang menggebu. Sudah musim-musim kita lewati dalam tatapan cinta tanpa satu kisipun yang mengusiknya. Saat musim gugur kita berjalan diantara bunga-bunga yang berguguran, kau erat menggenggam tanganku disepanjang perjalanan. 

 

Lelakiku, saat ini kita tidak lagi menjadi kita. Kau yang diam dalam sejuta keraguanmu. Kita tak lagi memiliki hujan dalam kebersamaan. Kau berjalan jauh didepanku, dan hujan kita telah menjadi kemarau. Kita hanya berjalan tanpa memiliki tujuan. Kau semakin dingin dan menghancurkan seluruh keyakinanku, menghancurkan mimpi-mimpi yang pernah terbangun dengan indahnya. Kini kurasa  daun-daun mulai berguguran didepan sana mengering dan tergerus debu-debu. Hati itu memutih diujung senja, masih bisakah kusimpan mimpi-mimpi itu untuk esok dan esoknya lagi sampai hati itu kembali melihatku dalam tatapan kasih.

  

Lelakiku, aku masih menunggu hujan datang dimana kita bisa menari bersama didalamnya, diantara butiran bening yang langit hadiahkan untuk dua jiwa yang menemukan jalan kebersamaan setelah badai menghancurkan setiap keping hati itu, lalu pemaafan yang tulus diberikannya. Mungkin penantian ini masih akan panjang.

  

Lelakiku, cinta kita sesederhana hujan hari ini. Bersama pelangi kulukis wajahmu dalam ingatan yang tak pernah memudar meski kau bersembunyi menunggu hujan berikutnya kembali. Meski hujan berikutnya tak pernah menjadi hujan kita. 

 

Lelakiku, Setelah hujan ini berakhir kita tak tahu mungkin waktu yang kita lewati tak akan pernah sama lagi. Semuanya akan berbeda menjadi sekeping cerita yang hanya berbalut masa dimana ia harus berlalu. Hujan kita harus berakhir dimusim ini.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s