Tentang ‘Jodoh’

Tulisan ini saya ambil dari akun Bang Fahd Pahdepie, seorang penulis yang bakat merangkai katanya luar biasa. Bang Fahd mengutip dari blognya penulis muda Azhar Nurun Ala, penulis Buku ‘Tuhan Maha Romantis’ dan ‘Seribu Wajah Ayah’ dan yang terbaru ‘Cinta dalam Perlawanan’. Saya suka sekali dengan dua penulis keren ini, suka dengan karya-karya mereka. Buku terbaru bang Fahd ‘ Jodoh’ Tentu berbicara prihal jodoh. Belum beli sih bukunya, rencana nunggu bulan depan. Mahasiswa tingkat akhir yang galau, bukan hanya masalah skripsi tapi juga prihal jodoh. Saya butuh pemikiran yang lebih baik, salah satunya dengan membaca. Semoga setelah lulus nanti saya dipertemukan dengan ‘Jodoh’ yang masih harus dibuktikan setelah pernikahan. Yuk langsung kita baca saja;

SELOROH TENTANG JODOH & JATUH CINTA YANG BODOH

(Review novel Jodoh oleh Azhar Nurun Ala)

“Key, hidup harus terus diteruskan. Lingkaran waktu harus terus berputar. Dan, meski aku tak ingin pergi dan kamu tak ingin aku pergi, hidup sering kali harus dilanjutkan dengan cara yang tak kita inginkan.”

“Barangkali, aku bukan laki-laki terbaik di dunia, karena memang tak ada seorang pun yang sempurna di dunia ini. Aku hanya laki-laki biasa, yang menemukan sebagian dirinya di dalam dirimu.”

“Dan, rasa kehilangan adalah pengalaman ajaib yang membuat kita lebih mengerti tentang rasa memiliki—di mana sepi selalu melubangi benteng air mata, di mana lesat waktu tak bisa kita kejar, di mana jarak tak bisa kita ringkas.”

Tiga paragraf di atas secara acak saya kutip dari novel Jodoh karya Fahd Pahdepie. Bukan kutipan-kutipan yang paling saya suka memang, sebab jika harus menulis kutipan favorit dari novel ini, bisa-bisa saya menyalin setengah atau tiga perempat isi buku. Berlebihan mungkin, tak apa lah. Sebab setiap pujian, kata Fahd, mungkin memang ditakdirkan untuk menjadi berlebihan, bukan?

Saya tumbuh dengan satu keyakinan bahwa di muka bumi ini Allah menciptakan manusia dengan bakat alam masing-masing. Di antara bakat alam itu, adalah bakat merangkai kata, yang mungkin dalam kategori kecerdasan termasuk ke dalam kecerdasan linguistik. Dan sebagaimana setiap bakat membutuhkan momentum tertentu untuk bisa melesat, bakat merangkai kata pun demikian. Momentum itu adalah ‘jatuh cinta’.

Jatuh cinta barangkali adalah salah satu pengalaman hati paling dahsyat yang dirasakan setiap manusia. Yang karena kemahadahsyatannya itu, seringkali bahasa sehari-hari tak lagi cukup menjelaskannya. Boleh jadi sebab itu juga, dalam puisinya yang berjudul ‘Aku Ingin’, meski Sapardi mengaku ingin ‘mencintai dengan sederhana’, dia tetap menggunakan perumpaan ‘hujan meniadakan awan’ atau ‘kayu yang dijadikan abu oleh api’. Bukan ‘seperti kata yang diucapkan ayah kepada ibu sebelum berangkat kerja’, yang tentu terdengar jauh lebih sederhana.

Saya kira dorongan dari perasaan ‘jatuh cinta’ itu juga yang membuat novel Jodoh karya Fahd Pahdepie ini terasa begitu hidup. Keahlian Fahd dalam merangkai kata menjadi sebuah kalimat indah yang tak perlu diragukan lagi, ditambah kelincahannya menyulap satu adegan sederhana menjadi peristiwa yang layak direnungkan secara serius, menjadikan novel ini bukan sekadar ‘novel galau-galauan’. Dengan tetap sederhana dan rendah hati, justru Fahd ingin mengajak pembaca untuk berjalan ke depan cermin lalu bertanya: orang sial mana di kolong langit yang akan mendapatiku sebagai jodohnya?

Ajakan rendah hati inilah yang menurut saya perlu diapresiasi dari novel Jodoh, sebab dewasa ini terutama di dunia anak muda pembicaraan tentang jodoh lebih sering dijadikan seloroh/lelucon, baik dalam bentuk meme, komik-strip, ejekan kepada teman, atau bentuk lain apa saja yang arahnya adalah bahan tertawaan. Padahal, perihal jodoh bukan perkara main-main. Saya pribadi berharap pertanyaan kontemplatif yang lahir itu membuat pembaca jadi lebih sering introspeksi diri, tentang sudah sejauh mana kualitas pribadinya. Sebab bagaimanapun, suka tidak suka, jodoh adalah cerminan diri.

Saya mohon maaf jika penceritaan saya mengenai novel ini jadi terkesan serius. Tapi, percayalah, novel ini begitu ringan dan penuh adegan-adegan konyol dan aneh, sebagaimana yang dialami semua laki-laki (atau juga perempuan?) yang jatuh cinta. Perasaan jatuh cinta memang sering membuat orang tiba-tiba bodoh dan salah tingkah, seperti salah satu adegan dalam novel ini, ketika Sena terburu-buru berlari dari tempatnya menyuci baju hanya untuk berpapasan dengan Keara di lorong pesantren tanpa menyadari di rambutnya masih banyak tumpukan busa sabun. Atau adegan Sena yang menelepon Keara dengan begitu gugup sehingga terpaksa berpura-pura sebagai PT Telkom. Saya menertawakan kejadian itu, sambil mengenang betapa saya juga pernah melewati masa-masa bodoh itu.

Ketika sampai di separuh novel ini, entah mengapa saya merasa perlu berhenti sejenak, meminum segelas air, lalu melanjutkannya kembali dengan lebih hati-hati. Sebab adegan-adegan yang dirangkai bukan hanya membawa saya ke dalam petualangan cinta Keara dan Sena, tapi juga menarik saya masuk ke dalam sumur masa lalu saya sendiri. Dan siapa pun yang masuk ke dalam sumur masa lalu, harus selalu siap dengan dua kemungkinan: keluar sebagai pribadi yang bersyukur atau penuh penyesalan.

Kalau ada yang membuat saya gagal menikmati novel ini sebagai pembaca yang lugu, itu adalah diri saya sendiri yang telanjur mengenal penulis secara personal. Sehingga, meski novel ini mengisahkan dua sejoli Sena dan Keara, yang terbayang di kepala saya dalam setiap adegan justru Fahd dan istrinya. Saya jadi membayangkan seorang Fahd kecil ketika menyanyikan lagu perdamaian, menghitung frekuensi detak jantungnya sendiri untuk menguji perasaan jatuh cinta, bertukar surat di ujung lapangan basket, atau, melepas kekasihnya di stasiun kereta. Meski bayangan-bayangan tersebut membuat saya tertawa atau paling tidak tersenyum kecil, hal itu jelas membatasi imajinasi saya, dan saya tidak nyaman dengan itu. Barangkali itu sebabnya, dalam salah satu wawancara, Aan Mansyur mengaku tak pernah ingin bertemu penulis favoritnya.

Akhirnya, setelah merampungkan novel ini, saya seolah dipaksa untuk sepakat dengan apa yang ditulis oleh Dee sebagai testimoni pada halaman pertama: inilah karya Fahd Pahdepie yang termanis.

Kisah manis ini telah mengantar saya pada kesimpulan bahwa, pada tataran yang paling realistis, jodoh adalah orang yang kita pilih untuk kita cintai. Bagaimana dengan kamu, kesimpulan apa yang akan kamu dapat? Selamat mencecap dengan lidahmu sendiri!

Depok, 8 Januari 2016

Azhar Nurun Ala

(http://azharologia.com/…/seloroh-tentang-jodoh-jatuh-cinta…/)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s