Seandainya…

 

Oleh : Sutihat Ahmad Suadh

Aku telah memilih jalan ini dan tidak bersama dengan kalian. Sejujurnya ada rasa kehilangan yang mendekap selama aku menapaki jalan baru atas keputusanku untuk memilih jalan hidupku yang lain. Bagiku hidup ini perjalanan menuju pulang, dan aku perlu tahu kebenaran atas apa yang kupikirkan. Meski  benturan dan jalan terjal yang barangkali akan aku sesali nantinya, saat aku tak bisa menemukan apapun selain mendapati keputusan akan pilihanku tidaklah benar.

Seandainya, ya seandainya aku terus bersama kalian barangkali aku akan lebih bisa bernafas. Tapi pada suatu malam, aku berfikir tentang hal yang sama untuk kesekian kalinya. Aku ingin menjalani bersama kalian, dan hanya memikirkan apa yang paling ingin aku lakukan bersama kalian untuk menjadi lebih baik. Tapi aku seperti berada dalam sebuah labirin, berjalan namun tidak pernah tahu apa tujuanku, dan apa yang bisa kulakukan untuk sesama. Aku terus berfikir, apakah dengan aku menjadi lebih pintar atau lebih cerdas, aku bisa membantu orang-orang yang kelaparan atau menyelimuti mereka yang menyatu bersama malam di jalan-jalan kota.

Seandainya, aku memang harus memilih jalan itu, barangkali aku akan bahagia. Tapi rasanya sulit mematahkan harapan kedua orang tua yang kini sudah menua. Harapan mereka yang terlampau besar akan kebaikanku dimasa depan. Meski bahagia tidak pernah diukur dengan materi, tapi kita membutuhkannya untuk bisa membantu orang-orang disekeliling kita untuk sekedar bertahan hidup satu-dua hari. Karena perasaan kecil itu didapat dari ketidakmampuan kita membantu orang lain, kefakiran kita akan empati, dan perasaan sombong yang mengalir pada diri kita karena kekerdilan pikiran.

Berbicara tentang pemikiran, tidak ada pemikiran yang benar atau salah; hanya saja prespektif berfikir dari sudut pandang mana kita melihatnya dan tolak ukur yang menjadi standar berfikir seseorang. Pernah saya mendengar bahwa pemikiran seseorang selalu dilatarbelakangi dari sejarah hidupnya, atau dari buku-buku yang dibacanya. Ada satu hal lagi, pemikiran seseorang juga dilatarbelakangi dari bagaimana seseorang dididik dan apa tujuan hidupnya.

Seandainya kita bisa lebih bersahabat akan perbedaan pikiran, dan masih bisa berjalan bersama-sama tanpa memaksakan hal-hal yang bersifat prinsip, barangkali aku tidak akan sedilematis ini. Aku ingin kita tetap menjadi kita yang saling mengingatkan, dimana saat tangan kanan terluka maka yang lain akan ikut membantu menyembuhkan.

Seandainya…
Aku masih berbicara seandainya, jika kakiku terluka dan aku kehilangan tujuan, masihkah kalian mengulurkan tangan seperti sebelumnya. Entahlah, barangkali aku tersesat sekarang, ditengah hutan yang gelap dimana aku tak bisa membedakan antara malam dan siang. Tak bisa membedakan kebenaran dan kebathilan, semua terasa samar. Aku seperti kehilangan tujuan, begitulah aku menjelaskan seteguk perasaan yang mulai hambar.

Dalam perjalanan ini, barangkali aku pernah memutuskan sesuatu yang salah dari banyaknya pilihan. Semoga Allah menemukan jalan untuk kita bisa melangkah bersama-sama.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s