Aku dan Perasaan Kita di Sepanjang Perjalanan

oleh : Sutihat Ahmad Suadh

Cinta yang kutahu, adalah menghormati. Maka jika kau bertanya prihal cinta, maka aku tak tahu jawabannya. Hanya saja jika kau menghormatiku, maka itu sudah cukup. Kita berjalan dengan impian kita masing-masing, mengabukan perasaan dalam sekeping tanya, yang hanya mampu dijawab oleh Tuhan.

Memandang langit mendung disertai gerimis, tanganku menengadah merasakan setiap butiran bening yang jatuh. Apakah hujan atau kesedihan… Aku hanya menikmati angin.

Ada saat ketika kita benar-benar yakin perasaan itu bukan hanya kekaguman adalah saat dimana seseorang itu selalu menjadi tempat perasaan kita kembali.

Berbicara prihal perasaan, aku tak pernah tahu jawaban pastinya. Kalian pernah memperhatikan cinta yang orang tua kita miliki dan berikan. Bagiku cinta yang paling ikhlas di dunia ini adalah cinta orang tua kepada anak-anak mereka. Seberapa sering kita menyakiti, sesering itu pula mereka memaafkan. Terkadang aku tak habis fikir, bagaimana cinta membuat seseorang lelaki renta merawat kekasihnya yang sakit selama tiga puluh tahun. Lalu bagaimana cinta, membuat seorang Ayah ingin menjual ginjal untuk anaknya yang sakit.

Bagiku perasaan tidak pernah menjelaskan dengan kata. Perasaan cinta itu akan membuat kita melakukan hal-hal yang benar. Ketika kita memiliki perasaan yang besar, yang seakan tak bisa kita hentikan dan membuat kita menjadi orang lain, bertindak menjadi seseorang yang berbeda dan melewati batas-batas keyakinan, maka pertanyakanlah pada hati, apakah kita akan bahagia setelahnya.

Pada hari kau ditinggalkan, langitmu akan runtuh seketika ketika kau mendasarkan cintamu bukan pada Tuhan. Karena kelak kita akan sendiri, merasakan kesendirian sebengis kematian. Itulah sebabnya dalam beberapa penelitian patah hati akan membuat seseorang mengalami kematian rata-rata lebih cepat, entahlah apakah benar atau tidak.

Aku dan perasaan kita disepanjang perjalanan…

Aku tak pernah percaya pada seseorang yang mengatakan perasaannya. Menjelaskan seberapa besar keinginannya untuk menjadi pendamping hidup. Menurutku penjelasan adalah gambaran keraguan dari sebuah pilihan, semakin seseorang banyak menjelaskan, semakin dia berusaha meyakinkan dirinya sendiri. Bagiku memiliki perasaan terhadap seseorang akan membuatmu lebih banyak berdialouge dengan Tuhan. Apakah kau merasakan sesuatu yang benar atau salah, atau apa yang harus kau lakukan untuk tidak melewati batas.

Aku pernah memiliki perasaan semacam kekaguman terhadap seseorang. Ada sebuah keinginan yang kurapalkan pada Tuhan, saat aku mulai menyadari perasaan itu begitu menganggu.

“Tuhan, aku ingin berfikir melalui kebenaranMu. Jika perasaan ini benar, maka pertemukanlah sebuah jawaban dalam perjalananku..”

Dengan beberapa alasan, aku meminta pada lelaki itu untuk menunggu. Dengan melakukan hal-hal yang ingin kita lakukan masing-masing. Karena kita adalah sama-sama pemimpi yang tengah berjuang mencapai puncak. Setahun perjalanan, dia mengatakan bertemu dengan seorang perempuan yang sangat mencintainya dan orang tua si perempuan melamar kepada orang tuanya. Dia bertanya tentang perasaanku, dan aku masih belum bisa memberinya jawaban. Karena bahkan aku tak yakin dengannya. “Menikahlah dengannya, dengan perempuan itu”. Barangkali perempuan terbaik adalah dia yang mencintaimu. Lelaki itu terdiam cukup lama diujung telfon. Dan tak ada yang bisa kulakukan selain menutup telfon.

Aku tersenyum setelahnya. Ada perasaan getir yang singgah. Hari itu aku menutup segala perasaan yang kubangun. Karena perjalanan seseorang akan terhenti bukan karena jalan terjal, tapi karena seseorang itu memang ingin berhenti. Kenapa aku memintanya hanya menunggu, karena aku sangat menghormatinya. Karena ada harapan yang kugantungkan di langit-langit tentangnya. Jodoh, bukanlah sesuatu yang bisa kau yakini seratus persen hanya karena memiliki perasaan yang sama. Jodoh adalah perasaan yang kau bangun dengan kesabaran, dan kau akan mendapati jawaban dalam perjalanan bersamanya.

Entahlah, barangkali memang aku tak benar-benar yakin sejak awal. Aku hanya fokus pada diriku, pada apa yang ingin aku lakukan. Sehingga perasaanku mulai menjadi dingin. Aku tidak yakin apakah aku bisa menerima seseorang yang tidak bisa bersabar ketika aku memintanya menunggu, kemudian dia bertanya berapa lama, yang aku sendiripun tak tahu jawabannya.

Jadi saat kau patah hati karena sesuatu yang menyakitimu, sesuatu yang tidak berjalan sesuai dengan rencanamu, kau masih bisa menggantungkan impianmu dilangit-langit, tidak terpelanting ke dasar. Saat kau menyerahkan seluruh hatimu kepada Tuhan, dengan berupaya memperbaiki diri, menjaga kehormatan, dan melakukan hal-hal yang benar. Kau tidak akan pernah merasa sesuatu yang akan sangat menyakiti perasaanmu.

“Mencintailah, seperti orang tua kepada anak-anak mereka, seperti Tuhan terhadap hamba-hambanyaNya. Dan bersikap keraslah pada dirimu yang salah, dan lunaklah kepada orang-orang yang menyakitimu, dengan memaafkan.”

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s