Sebatang pohon yang sendiri

oleh : Sutihat Ahmad Suadh

Sebatang pohon yang sendiri.
Gerobak itu selalu penuh dengan sampah plastik dan tumpukan kardus. Tubuhnya yang tak lagi tegak menarik gerobak yang sudah 13 tahun bersamanya menyusuri jalanan. Sesekali dia beristirahat di samping toko retail setelah mengambil beberapa sampah yang sudah disiapkan oleh sang pemilik. Setiap pagi dan sore beliau lewat didepan toko yang ku jaga. Aku selalu mengumpulkan sampah bekas minuman dan kardus serta apapun yang bisa membahagiakan lelaki tua itu. Kusiapkan untuk dia bawa. Jika ada rezeki lebih kubagi sebungkus nasi dan uang sekedarnya. Beliau awalnya menolak, karena dia bukan pengemis. Ya, aku tahu betul itu sehingga harus berhati-hati agar tak menyinggung perasaannya. Biasanya kami mengobrol sebentar, sekedar bertanya tentang peluh yang menetes. Beliau selalu tersenyum dengan gigi depan yang hanya tersisa satu, pertanda usia yang tak lagi muda.

Sudah seminggu ini aku tak melihatnya, khawatir kalau beliau sakit. Aku melihat setiap pagi dan sore namun si kakek tak datang seperti biasa. Sampah yang selalu kukumpulkan sudah menumpuk dibelakang. Kuputuskan untuk berkunjung kerumahnya, berbekal nama kampung tempat beliau tinggal. Aku mencari tahu rumah kakek Saidi, dan setelah satu jam aku ditunjukan rumahnya oleh seorang warga disana. Kakek tinggal bersama seorang anak perempuan beserta cucunya, isterinya telah meninggal setahun lalu karena stroke. Itulah yang kudengar dari seorang yang mengantarkanku kerumah kakek saidi. Kesedihan hanyalah senandung yang tak pernah bercerita.

Dibawah pohon kapuk, rumah yang kulihat sudah lapuk termakan usia. Kakek sedang terbaring di ranjang kayu beralas kasur tipis. Seorang anak perempuan yang ketika pertama kali aku melihatnya, perasaanku mulai terasa berat. Entah sejak kapan perempuan usia lima puluh tahun-an itu merasakan gelap sepanjang waktu. Aku mendekat, berusaha menegarkan pekatnya kesedihan yang seakan melapuk.

Aku berbicara dengan kakek saidi, yang selalu tersenyum ketika melihatku seperti biasanya. Matanya mengatup, seperti sebatang pohon yang tak bersuara namun terasa meneduhkan. Aku menahan segalanya, meski hatiku terasa sangat berat melihat ini. Seringkali aku merasa sesak, merasa berdosa, dan merasa kecil.

Dalam perjalananku, tak banyak yang ingin kulakukan. Tak banyak yang ku harapkan dari hidupku. Hanya saja aku seperti langit-langit yang terbatas pada sebuah ruangan kecil. Apa yang kita lihat dan membuat kita bersedih karena keadaan orang lain, akan menguatkan kita disepanjang perjalanan. Kakek bukan satu-satunya yang memiliki kehidupan yang sulit, hanya saja Allah mempertemukannya untuk menjadi guru terbaik dari kehidupan yang sering tak disyukuri. Aku menemukan sesuatu yang lebih pahit dari kehidupan orang-orang disekitarku, yang memberiku banyak pelajaran.

Sering sekali aku mendengar orang-orang yang terlalu berteori tentang kehidupan. Menemukan langitnya sendiri, yang maha luas. Tapi seringkali kita melupakan hal-hal kecil dari orang-orang yeng membutuhkan untuk kita lihat disepanjang perjalanan. Untuk menguatkan langkah kaki agar tak pernah rapuh, untuk sekedar memberi mereka kebahagiaan kecil. Karena kita adalah sebatang pohon yang sendiri.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s