NAURA

oleh :Sutihat Rahayu Suadh

Naura menjatuhkan tas ditangannya, matanya menatap tajam namun kembali tertunduk. Sena berjalan kearahnya dengan langkah pelan, kemudian tersenyum.
“Sudah lama tidak bertemu, Naura ? Sapanya
Naura hanya mengangguk, berusaha menyadarkan pikirannya.
“Sudah tiga tahun..”desis Naura
“Kau membaca semua buku dan surat yang kukirimkan ?”

Ka Nura…….?”suara serempak anak-anak berlari kearah Naura

Naura tersenyum melihat anak-anak berlarian dengan macam-macam jajanan ditangan mereka.

Apa itu..?” Tanya Naura pada salah satu anak yang membawa bunga kapas

“Bunga kapas.,”sahut sena

“Ka sena mau.. ?”ledek Naura

“Tidak, bunga kapas terlalu manis untuk kak sena, untuk adik manis saja.”katanya lembut

“Aku pergi dulu, sena.”Pamit Naura

Sena mengangguk, menatap gadis itu hingga hilang dari pandangan. Naura tak sempat menjawab pertanyaannya, hanya berlalu. Sena melihat ke segala penjuru, dan kembali mengambil gambar. Sena memang seorang fotografer sekarang. Dan cukup terkenal dengan karya-karya yang sudah diakui. Naura masih gadis sederhana yang kini membangun sebuah rumah untuk anak-anak jalanan, rumah pinus.

****

Perasaan itu memiliki batas yang bisa dilewati dan tidak. Kita diberikan berbagai macam pilihan dengan tujuan berbeda. Langit itu indah, tapi kita tidak akan pernah bisa menyentuhnya, tidak pernah tau partikel didalamnya. Lautan pun sama, hanya saja tidak sekedar bisa kita nikmati, bahkan kita bisa menyatu bersamanya, tapi selalu ada batas yang tak boleh dilewati. Kau tau, batas kita adalah keyakinan.

Naura tak pernah memahami perasaannya pada Sena, tidak, lebih tepatnya tidak ingin melewati batas dimana dia akan terhempas dan jatuh ditempat yang tak diketahui. Sena laki-laki yang sempurna dimata Naura, laki-laki yang membuatnya jatuh hati. Sena seorang Atheis yang tidak percaya pada Tuhan.

**

“Aku ingin percaya pada Tuhan, hanya saja aku masih harus mencari keberadaanya dalam bathinku. Naura, maukah kau menunggu hingga aku memiliki jawabanku akan Tuhan..”

Naura menutup buku, ketika Ayah mengahmpirinya.

“Nak, kau percaya pada Ayah?”tanyanya membuat Naura heran

“Tentu,

“Apa yang sedang begitu mengganggu pikiranmu?”Lanjutnya

“Yah, Naura mengenal seorang teman. Dia salah satu yang mendirikan “Rumah Anak Jalanan” dimana Naura pernah menjadi volunteer disana. Dia laki-laki yang baik. Setelah lulus kuliah, dia melanjutkan pascasarjanya di Jepang. Selama setahun, dia mengirimi Naura buku dan sebuah surat.”

“Baca yah..”lanjut Naura memberikan sebuah surat dengan amplop coklat tua yang sudah agak usang.

Ayah membacanya serius, beberapa menit berlalu.

“2013. dua tahun lalu…”Desis Ayah

“Itu surat terakhir yang laki-laki itu kirimkan bersama buku ini yah. Naura tak pernah sekalipun menjawab pertanyaan lelaki itu. Karena dia seorang Atheis, tidak percaya akan keberadaan Tuhan. Naura sudah berusaha melupakan perasaan yang mengalir begitu saja, entah kemana dia akan bermuara, tapi nyatanya Naura jatuh hati padanya.”Jelas Naura ragu

“Kembali bertemu dengannya?”

“Kemarin, saat bersama anak-anak pinus dipasar yah.”

“Lalu bagaimana kau memahami perasaanmu sekarang?”

“Naura tidak tahu yah.”

“Jika bertemu lagi, maka barangkali Tuhan sedang menunjukan kebenaran pada laki-laki itu. Naura adalah perantara yang akan mempertemukan laki-laki itu dengan Tuhan, maka bicaralah dengannya, jawablah setiap pertanyaan yang sudah terlalu lama menunggu jawaban.”

“Lalu, Ayah bisa menerimanya. Sungguh, apapun yang Ayah putuskan Naura akan menerimanya.

“Ayah akan menerimanya, jika dia sudah menemukan Tuhan (Allah) didalam hatinya. Saat laki-laki itu seorang muslim. Naura memahami maksud Ayah. Jika jodoh, maka kalian akan menemukan jalan terbaik.”

“Iya yah, Maafkan Naura..

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s