Langit-langit (Perjalanan Kita)

Oleh: Sutihat Rahayu Suadh

11960241_1596851247243858_3375393790979026194_n

Berhenti pada jarak yang jauh dan memandang hal yang sama. Kita saling diam. pertemuan. Selalu saja menyisakan pertanyaan “siapa?” Siapakah yang baru saja aku temui. Tidak tentu dan tidak pasti terjawab. Aku melihatnya berlalu dengan langkah kaki yang hening, senyumnya mengembang tipis. Aku ingin pertemuan hari itu kembali. Saat hujan aku melihatmu begitu teduh. Haruskah hujan lagi.

Namaku Kinanti Fatima, biasa disapa Kinan. Lelaki itu bernama Muhammad Hadi Sulaiman, Hadi aku menyapanya. Pertemuan yang Tuhan gariskan diantara kami seperti menemukan keindahan saat hujan turun. Aku tidak pernah tahu rencana Tuhan untuk bertemu dengan lelaki itu. Entah bagaimana aku menjelaskan tentangnya, karena bahkan aku tak pernah benar-benar mengenalnya. Aku melihatnya saat hujan pertama kali jatuh dibulan juni. Jantungku berdebar seribu kali lebih cepat dan otakku seperti mati seketika. Jatuh cinta pada pandangan pertama mungkinkah, karena bahkan saat itu aku tak tahu siapa namanya. Ya, karena Pertemuan selalu seperti itu. Belum sempat mengenal sudah berpisah. Jika bertemu lagi, tidak berani mengutarakan tanya.

Hadi, dia adalah teman Hans. Kebetulan kantor Hans, dilantai dua kantor tempatku bekerja. Akupun tidak pernah mengenal Hans dengan baik kecuali hanya teman biasa.

Untuk beberapa waktu, aku dan Hans mulai saling menyapa, bicara, bahkan berteman cukup baik. Entahlah tiba-tiba lelaki itu mulai menguatarakan tanya, dan pertemuan yang hanya dianggap berlalu kini mulai penting baginya. Sikap Hans mulai hangat, dan ada saja hal-hal yang membuatku ingin tahu banyak hal tentangnya, ingin lebih mengenalnya. Beberapa kali hadi datang kekantor bersama Hans, dan setiap kali melihatnya jantungku berdebar lebih cepat dan membuatku menjadi kaku. Semua pertanyaan tentangnya selalu hanya tertahan dilidah. Senyuman itu selalu membuatku merasa begitu tenang. Aku melihatnya berbeda dengan laki-laki kebanyakan. Lelaki yang berbicara begitu lembut, ramah, dan wajahnya terlihat begitu tenang.  Bagaimana aku menjelaskannya pada hatiku. Aku bahagia saat melihatnya, begitulah aku menjelaskan segala yang tidak mungkin menjadi mungkin. Tapi aku tidak pernah tahu cara menjelaskan seperti apa yang hatiku rasakan, bahkan untuk berbicara padanya aku tak pernah benar-benar bisa melakukannya.

Hans, selalu menjadi alasan untuk aku tahu tentang lelaki itu. Akupun memberanikan diri meminta nomor ponsel hadi pada Hans. Walaupun setengah mati menahan malu, tapi aku ingin mengenal hadi, aku ingin tahu tentangnya. Aku mengirim pesan pada Hans, setelah memutar-mutar ponsel untuk sekedar berfikir SMS atau Tidak. Akhirnya aku mengirim pesan pada Hans.

“Ka, aku boleh minta nomer temen kakak..?’

“Siapa..?

“Yang kemarin,

“Hadi..

“Iya..

“Untuk apa…?”

“Ada yang ingin aku tanyakan,..

Entahlah, Hans tidak membalas pesanku. Hans memang menyebalkan, dia makhluk yang memiliki tingkat keegoisan yang bisa dibilang kronik. Dua jam berlalu, aku menerima sebuah pesan. “0818xxxx- hadi”.

***

Keesokan paginya, aku mengumpulkan seluruh keberanianku hanya untuk mengirim pesan kepada Hadi. Entah berapa puluh kali aku menghapus pesan yang sudah kutulis. Nerveous dan perasaan aneh menggelayutiku seketika. Karena percaya atau tidak, Hadi orang pertama yang aku sukai. Usiaku saat itu 19 tahun, dan untuk pertama kalinya aku menyukai seseorang dan rasanya ajaib sekali. Aku menyimpan perasaan itu sendiri tanpa satu kisipun yang mengusiknya.

“Assalamualaikum..”

“Wassallam, siapa ?

“Kinan..

“Oh, Kinan.. Teman Hans dikantor itu ya..?

“Ya,  ka hadi,

“Hee, ada apa Kinan..?

“Nggak, aku mau tanya beberapa hal, dan kata ka Hans, ka hadi lebih tahu prihal ini. Makanya aku sms.

“Kinan mau tanya apa..?

Aku menjelaskan segala pertanyaan yang sebenarnya hanya alasan agar tak terlihat sangat memalukan, jika hadi tahu bukan karena masalah itu aku menghubunginya tapi hanya karena aku ingin mengenalnya mungkin dia akan menganggapku aneh. Dan aku tidak bisa menjadi seseorang yang begitu saja datang tanpa alasan bukan, jadi aku mulai menyanyakan banyak hal hanya padanya untuk memulai pembicaraan diantara kami. Rasanya menyenangkan saat bisa berbicara dengannya.

***

Sebulan terakhir aku mulai dekat dengan Hadi, tak ada satu haripun yang terlewat tanpa tahu kabarnya. Hampir setiap malam kami selalu berbicara diujung telefon, membicarakan banyak hal. Suaranya selalu terdengar teduh, begitupun kata-katanya yang selalu bijak dan nasihat-nasihatnya yang merubah segala pemikiranku tentang hidup. Hadi mampu melakukannya. Aku hanya wanita biasa, yang tak memiliki banyak kelebihan seperti yang lain. Aku memiliki dunia yang bahkan orang lain tak pernah bisa menapak disana. Tapi hanya kepada lelaki itu, aku mampu berbagi segalanya. Hadi selalu menjadi pendegar yang baik bagiku.

Ada yang aneh dengan sikap Hans, entahlah dia memang selalu seperti itu, sulit ditebak.  Apapun yang dia lakukan selalu menyisakan pertanyaan. Hans, selalu bersikap baik tapi bukan hanya padaku tapi pada semua wanita, itulah yang aku sadari. Kadang aku merasa terjebak dalam harapan yang selalu dia lambungkan setinggi langit, tapi aku tak pernah benar-benar tahu apa yang dia inginkan.

***

Suatu hari, dalam pembicaraanku dengan hadi diujung telefon aku mendengar sesuatu yang menyakitkan. “Kau, jangan memiliki perasaan apapun kepada kakak, kakak sudah menganggapmu seperti seorang adik…..”. Saat itu rasanya otakku mati seketika, seperti harapan yang kubangun ratusan hari, runtuh seketika. Dan dengan pikiran sempit, aku mengatakan padanya, bahwa aku menyukai Hans sejak pertama kali mengenalnya. Padahal saat itu aku ingin mengatakan kepada lelaki itu, bahwa aku sangat menyukainya, tapi bahkan tak sepatah katapun mampu keluar dari mulutku, semuanya terasa beku. Mungkin inilah cara terbaik untuk menyimpan perasaan itu darinya.

Aku mulai belajar menyukai Hans, sekalipun banyak hal yang pada akhirnya melukai perasaaku sendiri. Lelaki itu selalu membuatnya sedemikian sulit untukku. Saat bersama Hans, aku selalu menjadi orang lain. Aku selalu merasa tidak nyaman, dan banyak hal yang membuat hidupku jauh lebih rumit. Aku harus merubah banyak hal, sementara Hans terlalu berfikir tentang dunianya dan sering sekali mengabaikanku. Seakan aku hanya pilihan, bukan tujuan. Dan Hadi mulai menjauh perlahan, tak ada tawa yang terdengar diantara kami, atau obrolan-obrolan yang membuatku selalu tersenyum sepanjang malam, aku seperti kehilangan sesuatu dalam diriku entah apa tapi yang pasti rasanya menyakitkan.

Hari berganti,

Aku berdiri dibalik jendela kamarku, sambil menikmati pagi seperti biasanya. Kubiarkan angin menghempas tubuhku. Pikiranku menerawang, lamunan mulai membawaku pada ingatan tentangnya. Ini sudah bulan ketiga hadi tak pernah bicara lagi, bahkan aku tak pernah lagi mendengar kabarnya. Hubungan dengan Hans, tidak ada yang istimewa, kami tetap sebagai teman tanpa komitmen.

Jatuh cinta adalah fitrah, Tuhan menciptakan sebuah rasa tentu ada alasan dibaliknya. Aku sering sekali bertanya, jika hari itu Hadi tak pernah mengatakan jangan pernah jatuh cinta padanya, mungkin semuanya akan lebih mudah bagiku. Dan aku tak selalu membuatnya kesal karena selalu membicarakan Hans, mungkin semuanya akan lebih baik. Tapi apa benar semuanya akan lebih baik, mungkin semuanya akan tetap sama. Aku akan tetap menyimpan sekeping hati itu ditempat yang tak terlihat. Aku hanya akan tetap menjadi seseorang yang mengaguminya.

Enam bulan berlalu,

Langit masih tetap mendung, hujan bulan juni datang lagi. Aku masih tetap menyimpan semuanya. Hanya aku ingin mencintai sesuatu lebih sederhana. Banyak hal yang kupelajari ketika aku mengenal hadi, lelaki yang dengan kesederhanaannya mampu membuat cerita sederhana yang kunamai kenangan. Aku sangat menghormatinya, dan salah satu cara membalas semua kebaikan itu adalah dengan menjadi seseorang yang lebih baik. Untuk Hans, aku biarkan dia mencari jawaban pada hatinya, karena dia masih sibuk mencari kesempurnaan dalam diri seorang wanita. Dan aku mulai menyadari, seberapa keras usahaku untuk menjadi yang terbaik, tak akan pernah membuatnya hanya melihat kearahku. Karena aku hanya pilihan diantara wanita-wanita yang ingin menghabiskan setiap detik dari waktu mereka bersamanya. Dan aku mulai berfikir untuk berhenti.

***
Aku kepadamu adalah seseorang dengan orang lain yang bukan siapa-siapa. Jika aku peduli kepadamu, itu semata karena aku tidak tahu tentang bagaimana cara mengatasi perasaan. Setidaknya aku mampu menahannya. Aku menahannya untuk tidak lebih dari itu.

Aku tidak pernah menginginkan sesuatu  kecuali hanya sekedar bicara dengannya. Entahlah bagiku cukup rasanya ketika aku mulai mendengar sesuatu darinya, sebuah nasihat atau perkataan yang meneduhkan. Selama ini aku selalu berusaha menahan semuanya untuk tidak lebih dari itu, untuk dia tidak tahu prihal perasaan yang menyimpan banyak luka untuk tetap bertahan diam.

Hadi, selalu jadi bagian yang tidak terlupakan dari lembaran-lembaran cerita yang kutulis. Dia akan tetap menjadi cinta yang tak sanggup terucap. Kubiarkan dia tetap hidup dalam sekeping hati dan untuk tidak lebih dari itu.

***
Aku mulai berusaha untuk membenarkan segala perasaan yang samar. Tentang Hans, aku masih tidak tahu bagaimana perasaanku padanya, tapi bukan perasaan seperti yang kurasakan pada Hadi. Hans, masih dalam ketidakjelasannya, mencari dan terus mencari dalam kebimbangannya. Aku berusaha untuk pergi dari kehidupan lelaki itu, karena mungkin baginya aku pun tak lebih dari seorang teman baik dan Hans sedang mencari jawaban atas pertanyaan yang berkelebat dikepalanya.

Aku mulai berasumsi dan benar-benar tidak ingin peduli tentang itu sampai pada suatu hari aku beranjak dari sisinya dan berlari ketempat dimana aku tak bisa melihat siapapun kecuali menjadikan lembar demi lembar buku sebagai teman. Dan menulis banyak hal, sehingga mampu melupakan semua hal dimasalalu.Aku bukan lah tujuan, hanya dalam perjalanan, aku dan Hans pernah memiliki tujuan yang sama, hingga kami memutuskan untuk berjalan beriringan, melewati hal bersama, melihat pohon-pohon besar, langit-langit rumah, merasakan hempasan angin, dan bahagia. Meski tak selalu begitu.

***
Menghabiskan waktu dikantor dengan lembaran-lembaran pekerjaan, menganalisa setiap permasalahan serta tugas-tugas kuliah yang menguras pikiran, mengikuti berbagai kegiatan organisasi diluar kampus, dan mengajar anak-anak dirumah pinus. Itulah hal-hal yang kulakukan setelah memutuskan untuk melupakan semua hal tentang mereka. Aku tak pernah berfikir tentang hal lain, tujuan hidupku mulai berubah. Aku hanya merasakan jatuh cinta sekali dan tak bisa mengutarakan seperti apa cinta itu mengikat hati hingga sesak. Lalu aku terjebak pada cinta yang dangkal, dimana lelaki itu tak pernah memiliki tujuan. Bagiku semuanya sudah cukup membuat penat.

***
Perubahan adalah sesuatu yang meski sulit tapi akan membawa seseorang ketempat yang lebih baik. Aku, dengan tegas menyerukan tujuan hidupku sendiri. Bagiamana aku diciptakan dan diberi kesempatan oleh Tuhan untuk menjadi seseorang yang lebih mengenalnya.

Ada banyak orang yang kutemui beberapa mengatakan prihal perasaan mereka dan menunggu jawaban. Aku hanya menjelaskan bahwa untuk saat itu sampai detik ini aku tak bisa menerima siapapun. Aku ingin mencari tujuan hidupku dari seorang yang kubenamkan tanpa ia tahu. Aku ingin menungunya sampai suatu hari nanti kami dipertemukan, jika tidak, setidaknya aku sudah cukup berkualitas sehingga akan tuhan sandingkan dengan lelaki yang lebih baik. Begitulah aku mulai membangun keyakinan, berjalan perlahan dengan perasaan yang separuhnya pergi.

***

Semuanya memang sudah berubah, tidak pernah sama. Kami menjadi lebih asing. Kami saling berdiam tanpa pernah bertanya kabar. Semuanya sudah tak ada yang pasti, apa yang ingin ditanyakan atau didengarkan. Bahkan kami beradu sinis dengan kata-kata yang menjadi sekumpulan racun yang ditebarkan dihati kami masing-masing.

Waktu berlalu, selalu seperti itu. Bulan kini menjadi tahun. Setahun yang lalu aku masih mendengar suaranya diujung telfon, tapi sudah setahun berlalu bahkan aku tak pernah mendengar kabarnya. Rasanya dadaku sesak, sesak sekali. Rasa kehilangan yang begitu kental, dan pertemuan yang hanya menjadi sebuah kisah yang sudah jelas akhirnya, perpisahan. Tapi rasa sakit itu tak bisa kuabaikan begitu saja, karena Hadi adalah bagian dari impian yang ingin kubangun tapi semuanya seperti istana pasir yang tersapu ombak.

***

Pada siapa hati itu akan berlabuh, hanya Tuhan yang tahu pasti. Semuanya harus dilewati. Aku berusaha terbang dengan sayap yang bahkan tak bisa kugerakan. Tapi aku terus belajar menjadi seseorang yang kelak akan terbang kemanapun yang aku inginkan, seperti yang pernah Hadi katakan dulu, aku adalah wanita istimewa yang memiliki mimpiku sendiri.

Kini aku mengenal berbagai karakter yang menarik, menemukan hal-hal menarik dan menjadi seseorang yang bermimpi besar. Akan ada yang datang dan pergi seperti itulah Tuhan menjadikanku lebih kuat dari sebelumnya.

***

Aku memandang langit-langit kamarku, putih mengkilat. Tempat tidur, rak buku, meja belajar, dan tumpukan modul-modul tersusun rapih. Aku masih menulis, lembar demi lembar hingga ratusan halaman. Aku merindukan lelaki itu, apa kabarnya?”

Aku menyusuri hari-hari menjalani hidup seperti seadanya. Ditengah-tengah letihnya aku menjalani hidup dari pagi hingga petang. Aku mendapatimu menawarkanku kegembiraan ditengah langit yang gelap gulita; Kau membawaku menaiki tangga langit kehidupan ini. Aku selalu mencintaimu tanpa bertanya tujuan kita.

Aku tersenyum ketika kamu menyadari perhatianku, lalu aku buru-buru pergi. Menyisakan rasa malu. Aku tak pantas bagimu, begitulah aku menjelaskan seperti apa itu cinta, Memintamu menunggu agar aku menjadi wanita yang pantas mendapatkan sekeping hatimu yang tak pernah bicara tujuan, hanya berjalan dalam kebimbangan.

Setiap orang memilikinya, memiliki cinta yang ikhlas dalam penantian. Agar ia menjadi sekeping hati yang suci yang mencintai dan dicintai dalam hujan maupun kemarau yang merubah musim-musim dibumi tempatnya menanti.

Tapi semua tidak ada artinya; ketika hanya dijadikan pilihan bukan tujuan.

Dahulu, Aku ingin sekali bisa menikmati teh hangat bersama kekasih di teras rumah dikala hujan. Secangkir untukku dan secangkir lagi berada ditangannya. Menikmati beragam teh yang aku pesan dari berbagai penjuru mata angin. Hanya sebatas itu harapan sederhana yang minta pada tuhan. Tapi tidak ada yang bisa kunikmati saat ini bahkan hanya secangkir teh dikala hujan; ketika kau tak memilihku menjadi tujuanmu.

 

***

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s