Greathes Love

oleh: sutihat rahayu suadh

Orang-orang selalu bilang langit itu biru? kamu percaya…

Aku membereskan kertas-kertas yang berserakan, yang tak sengaja kujatuhkan. Kamu berdiri didepan sana melihat kearahku. Aku pura-pura tak melihat seperti biasanya, tapi kali ini aku tak berharap kau datang. Kau berdiri cukup lama, orang-orang melihat kerah kita, dan kau seakan mengabaikan mata-mata yang menelisik, seakan penuh dengan pertanyaan ada apa dengan kita. Aku selesai memebereskan semua kertas tang jatuh, namun kau tak bergeming dan terus memandang kearah yang lain. Aku berjalan melewatimu, seakan tidak ada kau disana, seakan tidak ada yang terjadi diantara kita. Aku melihatmu penuh kesal, lalu pergi ke arah yang lain.

Aku selalu bertanya padamu tentang perasaan yang kau sebut cinta. Berulang kali aku memikirkannya, dan aku tak menemukan jawaban seperti yang kuinginkan. Kelak bisakah kau menerimaku. Sudah empat tahun aku menyukaimu seperti aku menyukai buku-buku yang pernah ku baca. Aku membaca semua yang ada padamu, seperti aku membaca langit. Tapi aku tak pernah memiliki perasaan sebesar kau memilikinya. Ada dinding besar diantara kita, ada lautan yang tak bisa kusebrangi.

Saat kau bertanya, apakah diantara kita harus ada yang mengalah untuk bersama, berkorban sebesar yang bisa kita lakukan. Aku menggeleng, dan mengatakan “Aku tidak bisa meninggalkan Tuhan” dan kau mennyetujui itu. Kau seseorang yang bahkan tak bisa bergerak tanpa Tuhanmu, begitupun aku. Kita kembali saling tersenyum pahit.

****

Aku memperlambat langkah, berjalan menuju halte bis yang jaraknya cukup dekat dari kantor. Disepanjang perjalanan aku memikirkan banyak hal tentang lelaki itu, tentang keputusanku untuk mengakhiri perasaanku yang tumbuh selama ribuan hari. Keno, bukan laki-laki biasa karena padanya aku menjatuhkan pilihan. Dulu, aku menganggap bahwa keyakinan setiap orang bisa berjalanan beriringan sekalipun Tuhan yang kita yakini berbeda. Kita bisa melakukan ibadah kita secara terpisah, saling menghormati, dan bahagia dalam kebersamaan yang kita sebut pernikahan.

Aku dan Keno berusaha untuk menahan perasaan yang tumbuh, sampai semester akhir perkuliahan kami tetap bersama sebagai seorang teman, meski kami tahu betul bagaimana perasaan itu menghangatkan perjalanan kami hingga empat tahun berjalan. Tak ada yang berubah, kecuali pikiran dewasa kami yang semakin rumit. Aku mengenalkan Keno hanya sebagai teman kampus, dan keluargaku menerima Keno hangat. Aku tahu betul jika aku mengenalkannya sebagai kekasih, bagaimana reaksi yang akan ditunjukan Ayah, jika tahu anaknya menjalin kasih dengan laki-laki diluar keyakinan kami. Pasti Ayah akan sangat kecewa. Ya, karena Ayah seorang muslim yang ta’at.

***
Kemarin Keno mengajakku kerumahnya. Keluarga keno sejak dulu menerimaku dengan cukup baik, karena seperti keluarga, keluarga Keno hanya tahu kami hanya berteman biasa dan tidak mungkin melewati batas.

Kami sampai diruang tamu. Ini pertama kalinya Aku dan Keno hanya datang berdua, biasanya bersama teman-teman yang lain. Keno rapih sekali, dan wajahnya cukup tegang. Entahlah apa yang sedang difikirkan lelaki itu. Mama dan Papa Keno keluar bersama adiknya Jonathan. Aku memberi salam seperti biasa, kemudian kembali duduk ditempatku.

“Ma, Pa. Keno ingin mengatakan sesuatu..?”suara keno terdengar lebih tegas dari biasanya

“Serius sekali, Ken”, sambut papa

“Iya..”, Mama menimpali

Tiba-tiba saja perasaanku tidak enak, seperti akan terjadi sesuatu. Aku menatap Keno, dan ia hanya melirik.

“Aku ingin menikah..”, kali ini keno memelankan nada suaranya

“Mendadak sekali, dengan siapa, Ken. Lalu kenapa harus ditemani Anthea?”, pertanyaan itu terlontar begitu saja dari mulut mama

“Anthea.”

Aku berdiri menatap Keno, seperti ingin menghentikannya. Aku merasa inilah akhir dari hubungan kami. Dan aku kembali bergeming, dan berusaha untuk mendengarkan apa yang paling diinginkannya sekarang. Barangkali mengakui adalah pilihan terbaik.

“Kamu bicara apa Ken? kamu tahu kan Anthea seorang muslim?”, mama menatap keno marah

“Aku tahu.”

“Ini tidak boleh Ken, kamu tahu betul itu.”, papa menimpali

“Tidak bisakah, kita bersama dengan keyakinan kita masing-masing, pa. Aku mencintai Anthea, dan ingin bersamanya.”

“Ini bukan sekedar berbeda pendapat, tapi bagaimanapun tidak bisa. Keluarga Anthea tahu, dan Papa yakin, Ayah Anthea akan sama kecewanya dengan kami.”,

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s