KEMISKINAN DI NEGERI INI

KEMISKINAN DI NEGERI INI

(Memandang Ironi Negeri dalam Kemiskinan)

Oleh
Sutihat Rahayu Suadhi

ihaalkysa@gmail.com

 

 

ABSTRAK

Kemiskinan adalah suatu keadaan dimana terjadi ketidakmampuan untuk memenuhi kebutuhan dasar. Kemiskinan dilihat sebagai kegagalan personal dan ketidakefektifan peran pemerintah dalam pengentasannya. Kemiskinan dipandang sebagai sub kebudayaan tertentu yang diturunkan dari generasi ke generasi yang membentuk suatu rantai yang sulit sekali terputus. Banyak faktor yang mengindikasinya, baik dari individual maupun peran pemerintah sehingga kemiskinan menjadi masalah yang berkelanjutan. Begitupun dampak yang ditimbulkan dari masalah kemiskinan ini meluas dalam berbagai aspek kehidupan. Namun ada beberapa solusi yang ditawarkan untuk mengentaskan masalah kemiskinan dinegeri ini. Namun dalam beberapa hal perlu diadakan optimalisasi kinerja dan efektifitas sehingga program-program yang direncanakan bisa terealisasikan dengan baik.

Kata kunci : Pengertian kemiskinan, masalah kemiskinan,Indikasi kemiskinan, keadaan masyarakat miskin, dampak kemiskinan, dan langkah mengatasi masalah kemiskinan.

A.    PENDAHULUAN

Pelaksanaan GBHN 1988 pada PJP II pelita ke tujuh bangsa Indonesia menghadapi bencana hebat, yaitu krisis ekonomi Asia yang mengakibatkan stabilitas politik menjadi goyah. Para wakil rakyat yang seharusnya membawa amanat rakyat dalam kenyataannya tidak dapat berfungsi secara demokratis. Serta penyalahgunaan kekuasaan dan wewenang dikalangan para pejabat membawa rakyat semakin menderita. Dimana pada saat itu kemiskinan diindonesia menjadi semakin parah dan pada kenyataannya masalah kemiskinan itu berkelanjutan sampai saat ini.

Potret kemiskinan di negeri ini sangat memprihatinkan oleh karenanya tidak sedikit upaya yang dilakukan oleh pemerintah untuk mengentaskan kemiskinan, meskipun belum optimal. Karena subsidi yang seharusnya diperuntukan untuk rakyat miskin dalam realitasnya tidak tepat sasaran. Belum lagi sistem birokrasi pada instansi pemerintahan dan penyelenggara negara yang tidak jarang menyalahi wewenang yang mengakibatkan ekonomi rakyat semakin tidak tersentuh. Harus ada reformasi dari masyarakat itu sendiri dan terutama pemerintahan yang menaunginya. Karna kemiskinan mencakup berbagai aspek yang mengindikasinya, penyebab, dan dampak bagi kehidupan manusia. Dan yang dibutuhkan adalah solusi-solusi konkrit yang harus direalisasikan dalam pengentasan kemiskinan agar tidak terus menjadi ironi negeri ini.

Melalui solusi-solusi yang ditawarkan untuk mengentaskan masalah kemiskinan, ada harapan jika dari segala pihak bisa berfikir untuk bisa memecahkan masalah ini agar kemiskinan tidak berkelanjutan. Untuk merealisasikan tujuan dari bangsa Indonesia yakni mencerdaskan kehidupan  bangsa, maka masalah kemiskinan pemerintah harus mengoptimalkan kinerjanya sebagai wakil rakyat yang memang bekerja untuk kepentingan rakyat.

B. PEMBAHASAN

1. Pengertian Kemiskinan

Kemiskinan adalah keadaan dimana terjadi ketidakmampuan untuk memenuhi kebutuhan dasar seperti makanan, pakaian , tempat berlindung, pendidikan, dan kesehatan. Kemiskinan dapat disebabkan oleh kelangkaan alat pemenuh kebutuhan dasar, ataupun sulitnya akses terhadap pendidikan dan pekerjaan. Kemiskinan merupakan masalah global. Sebagian orang memahami istilah ini secara subyektif dan komparatif, sementara yang lainnya melihatnya dari segi moral dan evaluatif, dan yang lainnya lagi memahaminya dari sudut ilmiah yang telah mapan,dll.

Berdasarkan informasi yang saya peroleh dari Penabugis (Arsy art : 2013) Menurut Philips dan Legates (1981) mengemukakan empat pandangan tentang kemiskinan, yaitu  pertama, kemiskinan dilihat sebagai akibat dari kegagalan personal dan sikap tertentu khususnya ciri-ciri sosial psikologis individu dari si miskin yang cendrung menghambat untuk melakukan perbaikan nasibnya. Akibatnya, si miskin tidak melakukan rencana ke depan, menabung dan mengejar tingkat pendidikan yang lebih tinggi.  Kedua, kemiskinan dipandang sebagai akibat dari sub budaya tertentu yang diturunkan dari generasi ke generasi. Kaum miskin adalah kelompok masyarakat yang memiliki subkultur tertentu yang berbeda dari golongan yang tidak miskin, seperti memiliki sikap fatalis, tidak mampu melakukan pengendalian diri, berorientasi pada masa sekarang, tidak mampu menunda kenikmatan atau melakukan rencana bagi masa mendatang, kurang memiliki kesadaran kelas, atau gagal dalam melihat faktor-faktor ekonomi seperti kesempatan yang dapat mengubah nasibnya. Ketiga, kemiskinan dipandang sebagai akibat kurangnya kesempatan, kaum miskin selalu kekurangan dalam bidang keterampilan dan pendidikan untuk memperoleh pekerjaan dalam masyarakat. Keempat, bahwa kemiskinan merupakan suatu ciri struktural dari kapitalisme, bahwa dalam masyarakat kapitalis segelintir orang menjadi miskin karena yang lain menjadi kaya. Jika dikaitkan dengan pandangan konservatisme, liberalisme dan radikalisme, maka poin pertama dan kedua tersebut mencerminkan pandangan konservatif, yang cendrung mempersalahkan kemiskinan bersumber dari dalam diri si miskin itu sendiri. Ketiga lebih mencerminkan aliran liberalisme, yang cendrung menyalahkan ketidakmapuan struktur kelembagaan yang ada. Keempat dipengaruhi oleh pandangan radikalis yang mempersalahkan hakekat atau prilaku negara kapitalis.

http://bangazul.blogspot.com/2013/05/kemiskinan.html [gambar]

2. Masalah Kemiskinan

Kemiskinan diindonesia selalu menjadi masalah yang berkelanjutan, mengapa masalah kemiskinan seolah sudah mengakar dan sulit  sekali dalam mengatasinya.  Itulah pertanyaan yang sering muncul dalam masyarakat indonesia. Bukan kah sudah sangat jelas cita-cita bangsa indonesia adalah mewujudkan masyarakat yang adil dan makmur tapi dalam pelaksanaannya masih sangat jauh.  Dalam hal ini pemerintah sudah memberikan perhatian yang besar melalui program-program pembangunan nasional uantuk meningkatkan kesejahteraan masayarakat dalam segala bidang kehidupan.  Mulai dari peningkatan kualitas pendidikan, kesehatan, sarana dan prasarana, dan bantuan-bantuan langsung lainnya. Meskipun demikian masalah kemiskinan dinegeri ini terus saja menjadi masalah yang seakan bergulir seperti snowball yang semakin lama semakin besar.

Indikasi kemiskinan yang berkepanjangan terlihat dari presentase jumlah penduduk miskin diindonesia pada september tahun 2012 mencapai 29,13 juta orang, yang diperoleh berdasarkan survei  Badan Pusat  Statistik  (BPS). Masalah yang sering muncul dalam hal ini adalah sulitnya mendefinisikan dan mengukur  kemiskinan dalam prespektif realnya. Karna banyak  indikasi yang mendasari masalah ini muncul, salah satunya adalah kualitas pendidikan yang rendah. Bagaimana bisa membangun kualitas suatu SDM yang baik sementara hal yang mendasarinya tidak mendukung pengembangan kualitas SDM itu sendiri.  Misalnya saja masih sulitnya bagi kaum terpingggir atau masyarakat miskin mendapatkan pendidikan yang layak, sekali lagi mereka harus dihadapkan pada realitas kehidupan dimana untuk mendapatkan pendidikan yang baik dibutuhkan biaya yang tidak murah. Sementara bagaimana mereka memikirkan pendidikan yang layak atau tidak karna yang terfikir dalam benaknya hanya bagaimana bisa menyambung hidup dimana pengeluaran selalu lebih besar dari pendapatan. Padahal Indikasi untuk kehidupan yang lebih baik faktor penunjangnya adalah pendidikan yang baik. Dimana pendidikan adalah jalan untuk menjadikan kehidupan seseorang menjadi lebih baik.

Kemiskinan diindonesia masih saja tetap sekalipun pertumbuhan ekonomi selalu mengalami peningkatan. Inilah ironi negeri ini dimana terjadi ketidaksinkronan antara pertumbuhan perekonomian dan tingkat kemiskinan yang semakin tinggi. Pemerintah selalu membuat agenda rutin setiap tahunnya yakni menyusun Anggaran Belanja Negara (APBN) dimana masalah kemiskinan selalu menjadi pembahasan yang tak pernah ditinggalkan. Sementara itu, usaha pemerintah dalam pengentasan kemiskinan masih belum maksimal. Hal ini bisa dilihat dari postur anggaran belanja pemerintah pada tahun 2011, di mana total belanja negara telah mencapai angka Rp1.320 triliun dengan rincian belanja untuk pemerintah pusat Rp908,3 triliun dan transfer daerah Rp412,5 trilun. Dari Rp908,3 triliun pemerintah pusat, Rp182,9 triliun atau sekira 20,14% dialokasikan untuk belanja pegawai, Rp142,8 triliun atau dengan kata lain sekira 15,73% dialokasikan hanya untuk belanja barang. Rp106,6 triliun atau sekira 11,74% dialokasikan untuk membayar bunga utang dan Rp195,3 triliun atau sekira 21,5% untuk menanggung subsidi BBM dan listrik. Sementara itu, belanja modal yang berupa pembangunan infrastruktur hanya sebesar Rp 140,9 triliun atau sekira 15,51% dan belanja bantuan sosial yang langsung menyentuh rakyat miskin hanya mengambil porsi sekira 9,01% atau setara dengan Rp 81,8     triliun.

Sebenarnya kebijakan yang diambil oleh pemerintah saat ini sudah cukup baik dan harus terus dijalankan dan dioptimalkan, tapi masalahnya realitas disini tidak berjalan sesuai dengan harapan dimana kebijakan tidak pada realisasi atau target sasaran yang tepat. Sebuah solusi yang diharapkan rakyat belum juga mencapai titik keberhasilan dalam praktiknya. Mungkin selain hanya memikirkan pengalokasian anggaran atau dana untuk pembangunan dalam konteks peningkatan kualitas alangkah lebih bijak jika ada pembaharuan pada sistem birokrasinya. Yakni pembenahan pada instansi atau lembaga-lembaga yang bertanggung jawab pada bidangnya masing-masing misalnya pendidikan, kesehatan, ketenagakerjaan, dan sebagaianya. Karna banyaknya praktek-praktek kotor seperti KKN yakni penyalahgunaan wewenang oleh segelintir orang yang berambisi memperkaya diri sendiri tanpa memikirkan dampaknya bagi masyarakat luas. Tidak ada pemahaman tentang kemiskinan yang mungkin seharusnya bisa diselesaikan jika segelintir orang tersebut tidak mengkamuflase anggaran yang sudah tersusun untuk kepentingan mereka untuk sesuatu yang sebenarnya tidak bermanfaat sama sekali bagi rakyat. Selalu ada pembelaan yang dengan mengatasnamakan kepentingan rakyat. Itulah realitas sistem yang harus dibenahi di negeri ini, dimana terkadang hukum selalu berpihak pada mereka yang berkuasa, dengan membiarkan kemiskinan semakin mengakar.

3. Indikasi Kemiskinan

Kemiskinan sendiri bukan semata-mata kesalahan atau tanggung jawab pemerintah tapi ada indikasi atau penyebab intern dari masyarakat itu sendiri. Ada pemahaman yang salah mungkin, atau cara berfikir masyarakat miskin yang memang sederhana. Pola pikir yang tidak berkembang karna bagi mereka hidup hanya persoalan bisa makan hari ini tanpa berfikir apa yang bisa mereka lakukan untuk kehidupan yang lebih baik atau mungkin tidak ada pilihan karna keterbatasan yang mereka miliki. Tapi bagaimanapun ketidakmampuan mereka memenuhi kebutuhan tentu menjadi pokok permasalahan kemiskinan yang mendera masyarakat miskin di Indonesia.
Tanpa disadari keadaan ekonomi selama satu dekade terakhir ini menjadi cerminan bagaimana kemiskinan dinegara ini adalah masalah yang mendasar di indonesia. Didalamnya terdapat banyak aspek yang mempengaruhi mulai dari lapangan kerja yang sempit, tingkat pendidikan yang rendah, Pelayanan kesehatan yang buruk, dan berbagai permasalahan yang menjadi indikasi kemiskinan diindonesia sudah akut dan berakar.
Dalam hal ini pemerintah tidak hanya tinggal diam, banyak upaya-upaya untuk mengatasi masalah kemisinan. Dari mulai memberikan bantuan Langsung seperti BLT atau membuat reformasi dalam segala bidang  seperti menaikan presentase anggaran dibidang pendidikan dan kesehatan, lalu dalam bidang ketenagakerjaan  seperti pengefektifan dan pengembangan SDM melalui pelatihan, membangun pabrik-pabrik baru untuk mengurangi jumlah pengangguran, dan berbagai program pengentas kemiskinan lainnya, hanya saja seperti yang dijelaskan diatas semua masih kurang efektif dalam praktiknya.

Pendidikan adalah sarana yang paling tepat untuk meningkatkan kualitas SDM. Dimana pendidikan disinergikan menjadi pusat bagi masalah yang paling mendasar yakni kemiskinan. Lalu bagaimana kualitas SDM dapat dibangun sesuai dengan harapan dan cita-cita bangsa sementara kualitas pendidikannya tidak mendukung. Dimana ada keterbatasan bagi setiap individu untuk terus mengembangkan potensinya sementara ada keterbatasan-keterbatasan yang tidak bisa dielakan.

4. Keadaan masyarakat miskin

Masalah kemiskinan sudah menjadi masalah yang mendasar dan berkelanjutan di negara ini. Kemiskinan dinegara berkembang selalu dimana alat pemenuhan kebutuhan sangat terbatas dibanding dengan kebutuhan masyarakat kita. Dewasa ini angka kemiskinan diindonesia terus saja meningkat. Dilihat dari banyaknya masyarakat yang berkeadaan memprihatinkan. Dari masalah pangan, pendidikan, pekerjaan dan tempat tinggal. Tidak jarang kita temui pengemis di jalan-jalan atau emperan toko dikota-kota besar. Banyaknya anak usia sekolah yang harus putus sekolah karna keadaan ekonomi keluarga mereka yang carut marut sehingga mereka memutuskan untuk bekerja membantu ekonomi keluarga dengan menjadi pemulung, pedagang asongan atau pekerjaan-pekerjaan lain yang tidak sepatutnya mereka kerjakan.

Padahal pendidikan adalah salah satu faktor yang penting bagi kualitas manusia Indonesia agar memiliki penghidupan yang lebih baik, tapi pada kenyataannya mendapat pendidikan yang baik sama sulitnya dengan mencari sesuap nasi bagi kaum terpinggir ini. Meskipun sudah ada program-program pemerintah yang bertujuan membangun pendidikan Indonesia yang lebih baik seperti program BOS atau Beasiswa bagi siswa tidak mampu pada kenyataannya relatif sulit untuk diimplikasikan dalam praktik sebenarnya. Banyak faktor yang mendasarinya salah satunya dari sistem pemerintahan yang individualistis yang sudah harus dibenahi. Itu hanya sebagian kecil faktor kemiskinan dinegeri ini. Jika kita lihat dari segi kualitas kesehatan juga tak kalah mengkhawatirkan. Berapa banyak kasus masyarakat miskin ditolak oleh sebuah rumah sakit karna persoalan biaya dengan alasan prosedur. Mungkin bisa dipahami mereka hanya mengikuti prosedur rumah sakit tempat mereka bernaung tapi jika sudah menyangkut nyawa manusia sekalipun “mereka” hanya orang miskin apakah bisa dibenarkan. Disini tidak akan membahas hal tersebut ,yang harus digaris bawahi adalah pelayanan mereka yang kurang memadai dan masih adanya kesenjangan yang sangat transparan dinegeri ini. Tapi begitulah realitasnya, bukankah negara ini negara demokrasi dimana semua rakyat yang bernaung di negara yang sama dengan pemimpin dan undang-undang yang sama harusnya mendapatkan perlakuan yang juga sama tapi mengapa berbeda, mungkin hal yang sama juga selalu menjadi pertanyaan yang tak pernah jelas jawabannya, selalu ada pembenaran-pembenaran yang harus orang kecil terima dari mereka yang punya intelektual lebih tinggi. Karna bagi mereka ketidakadilan adalah suatu yang sudah harus mereka terima bukan karna mereka menginginkan ketidakadilan itu tapi adakah pilihan yang lebih baik dari sekedar “nerimo”.  Realitas itu tidak selalu seperti teori, ada yang mengatakan semua manusia punya pilihan dalam hidupnya tapi pada kenyataannya pilihan itu terbatas ada hal yang membatasi pilihan. Kemiskinan yang dibiayai dengan hutang bisa dibayangkan akan lebih sulit memperbaiki hal semacam ini. Adakah usaha yang dilakukan individual dalam melakukan suatu usaha untuk keluar dari kemiskinan sementara adanya keterbatasan pendidikan, keahlian, dan sempitnya lapangan pekerjaan yang menampung SDM yang tidak mempunyai kualitas yang pantas bagi perusahaan. Lalu bagaimana cara yang efektif untuk mengatasi masalah ketimpangan sosial ini. Kemiskinan juga diidentifikasikan sebagai rantai yang sulit sekali terputus.

http://labsky2012b.blogspot.com/2012/09/tugas-4-solusi-labsky-untuk-kemanusiaan_2464.html [gambar]

Kemiskinan dalam sudut pandang yang lebih luas, banyak faktor yang mengindikasinya, seperti yang saya akan jelaskan dibawah ini:

a).Ketimpangan sosial

Koordinator Konsorsium Kemiskinan Kota, Wardah Hafidz mengatakan ketimpangan sosial di Indonesia saat ini sangat lebar. Akan tetapi berdasarkan survei, kata Kepala Divisi Analisa Statistik, Badan Pusat Statistik, Kecuk Suhariyanto, ketimpangan sosial di Indonesia kecil. “Posisi Indonesia saat ini sekitar 0,37. Ada ketimpangan tetapi boleh diklasifikasikan masih rendah,” jelas Kecuk. Bagaimanapun, survei BPS ini kesulitan menjangkau rumah tangga yang berada di garis paling atas. Artinya, ada lapisan masyarakat paling kaya yang tidak terekam dalam survei. Tim ahli Pusat  Studi Ekonomi Kerakyatan, Universitas Gadjah Mada, Arie Sujito berpendapat, angka hasil rata-rata pendapatan orang miskin yang dominan dan orang kaya yang segelintir ini, tidak menyebar.

b).Rantai kemiskinan

Potret lingkaran kemiskinan

Di kompleks perumahan Sidosermo, Surabaya, sebuah rumah gubuk menempel pada tembok rumah di sebelahnya yang megah. Pertumbuhan ekonomi, ketersediaan lapangan pekerjaan kemudian suasana yang aman dan mereka bebas berusaha itu besar peranannya terhadap gerakan orang keluar dari kemiskinan. Di atas tanah pinjaman ini, satu keluarga yang memiliki delapan anak tinggal selama beberapa tahun terakhir. Kepala keluarganya, Supadi, telah menarik becak selama 30 tahun. Dia sendiri mengalami cacat kaki setelah disuntik karena sakit panas sewaktu bekerja di sebuah pabrik. Dari segi pendidikan, anak-anak Supadi lebih maju karena ada yang tamat SMP dan setingkat SMA. Sedangkan Supadi sendiri hanya jebolan kelas 5 SD. Keluarga tukang becak ini juga menerima beberapa bantuan kesejahteraan untuk rakyat miskin. Anak-anak Supadi putus sekolah dan menikah dini, lalu lahirlah cucu-cucunya.

Dari contoh kasus diatas dapat disimpulkan, bahwa kemiskinan membentuk rantai berupa lingkaran yang tidak terputus. Dimana jika sebuah keluarga miskin tanpa usaha untuk merubah nasibnya maka kemiskinan  tidak akan terputus rantainya. Pertanyaan bisakah keluarga tersebut memutus rantai kemiskinan??”. Menurut saya kemiskinan dapat terputus rantainya jika ada usaha dari individual dan tentunya bantuan dari pemerintah untuk mensejahterakan keluarga tersebut. Karena kemiskinan bukan saja tanggung jawab dari pemerintah melainkan ada usaha dari individual dalam hal ini kaitannya dengan keluarga miskin yang harus memperbaiki nasibnya sendiri. Tapi sulit rasanya jika pemerintah hanya menyusun anggaran sekian persen untuk membantu pengetasan masalah kemiskinan tapi tidak turun langsung untuk melihat kemiskinan dari siudut pandang yang lebih dekat. Seharusnya bantuan yang diperuntukan untuk rakyat miskin harus tepat sasaran bukan hanya dibuat namun tidak terealisasikan dengan baik. Itu hanya akan menjadi sesuatu yang tidak efektif. Jadi disini yang saya singgung adalah ketidaksinkronan antara tanggung jawab individual dan pemerintah dalam mengentaskan masalah kemiskinan. Rantai dimana jika suatu keluarga miskin maka akan sampai ke anak cucu mereka pun miskin. Ini sebuah ironi di negeri ini, kita tidak bisa menutup mata karna pada realitasnya memang kemiskinan selalu menjadi masalah yang berkelanjutan.

c). Mobilitas sosial

perpindahan status pada lapisan yang sama atau sederajat. Dimana kemiskinan mempunyai mobilitas sosial yang vertical sulit sekali naik. Ini menjadi faktor yang mengindikasi kemiskinan dimana tingkat pendidikan yang rendah, sudah puas dengan apa yang dimiliki dan adapun diskriminasi kelas. Sehingga bagi masyarakat miskin mobilitas sosial mereka terhambat, Karna sulitnya mencari pekerjaan yang lebih layak karena faktor-faktor tersebut. Sehingga mobilitas sosialnya hanya berada pada tingkat terendah dan vertikal.

http://www.bbc.co.uk/indonesia/laporan_khusus/2009/12/091127_poverty4.shtml [ gambar]

Sukirno hanya mengantongi Rp 20.000 per hari Peneliti lembaga penelitia SMERU, Sirodjuddin Arif, mengatakan mobilitas orang miskin tidak semata ditentukan oleh program pemerintah.

“Namun juga terkait dengan situasi ekonomi nasional. Pertumbuhan ekonomi, ketersediaan lapangan pekerjaan kemudian suasana yang aman dan mereka bebas berusaha itu besar peranannya terhadap gerakan orang keluar dari kemiskinan,” tutur Sirodjuddin.

Di Bantul, DIY, keluarga Purwadi menggalang dana keluarga dengan menjual sepeda motor dan rumah sebagai upaya meningkatkan kesejahteraan. Mereka secara gotong royong mengumpulkan dana Rp 45 juta untuk membayar uang pelicin agar adik Purwadi diterima menjadi aparat kepolisian. Purwadi menuturkan adiknya yang menjadi polisi itu kini bisa membantu adik bungsunya untuk kuliah. Tidak seperti keluarga Purwadi, sanak keluarga dan nilai gotong royong tidak bisa dijadikan penopang lagi bagi Sukirno yang tinggal di Kepanjen, Malang, Jawa Timur.Tamatan Sekolah Rakyat ini maksimal hanya bisa mengantongi Rp 20.000 per hari dari ratusan bata merah yang dicetaknya.

5. Dampak Kemiskinan

Dampak kemiskinan terhadap masyarakat umumnya begitu banyak dan kompleks, diantaranya:

a). Penganguran

Pengangguran adalah suatu kondisi dimana masyarakat yang tidak bekerja  tidak dapat diproduksi. Pengangguran yang tinggi membebani 3 hingga 5 persen PDB. Disini biaya pengangguran ditanggung tidak merata. Terdapat konsekwensi distribusional yang besar. Dengan kata lain biaya resesi ditanggung secara tidak proposional oleh individu yang kehilangan pekerjaannya. Bisa dibayangkan saat satu kepala keluarga kehilangan pekerjaannya atau sulit mendapat pekerjaan betapa tidak proposionalnya tentang bagaimana suatu kebutuhan yang semakin tinggi dengan kenyataan tidak ada sesuatu yang menunjang pemenuhan kebutuhan itu. Dan dampaknya tentu sangat jelas dimana tingkat kemiskinan akan semakin tinggi.

b). Kejahatan

Kemiskinan selalu berdampak pada psikologis seseorang. Dimana pada suatu kondisi mengharuskan mereka menjadi pribadi yang keras. Meskipun dalam praktiknya kekerasan tidak bisa dibenarkan. Misalnya saja kemiskinan yang mendera suatu keluarga yang benar-benar tidak memiliki apapun untuk dimakan memicu kepala keluarga berbuat kejahatan. Dalam keadaan sulit dan tersudut, keluarga miskin yang sudah beberapa hari kelaparan memaksa sang ayah mencuri walau hanya mencuri sekedar untuk mengganjal perut tentu dengan resiko yang besar. Sekali lagi jangan melihat dari sudut pandang kriminalitasnya tapi apa faktor yang memicunya. Sekalipun itu tidak bisa dibenarkan. Atau banyak kasus-kasus lainnya yang terjadi karna sebuah kemiskinan.

c). Pendidikan

Apakah yang mendasari sebuah kemiskinan, salah satu faktor yang paling mendasar adalah rendahnya tingkat pendidikan. Dimana salah satu penyebab rendahnya tingkat pendidikan adalah kemiskinan.  Banyak anak yang putus sekolah karna masalah biaya, atau alasan klise membantu ekonomi keluarganya. Dimana urusan perut lebih penting dari pendidikan itu sendiri. Itu lah realitas yang tak bisa dielakan . Pada kenyataannya sulit sekali mendirikan pendidikan yang berkualitas sementara masalah kemiskinan masih berkelanjutan. Peran pemerintah disini sangat penting.

d). Kesehatan

Kesehatan adalah masalah yang juga sering mendera masyarakat miskin. Hal ini ditimbulkan karna pola makan yang tidak teratur dan mungkin tidak sehat. Karna mereka makan apa yang bisa mereka makan dan tidak bisa memilih makanan yang mereka inginkan. Lingkungan yang tidak bersih juga mempengaruhi lingkungan. Banyak kita lihat dipinggir kota disepanjang sungai dimana masyarakammt miskin menggunakannya untuk berbagai aktivitas seperi mandi, mencuci, membuang sampah, dsb. Hal itu memicu tumbuhnya berbagai penyakit karna pola hidup yang tidak sehat. Kemiskinan selalu berdampak pada seluruh aspek kehidupan. Hal ini diperparah dengan lemahnya sistem birokrasi pada rumah-rumah sakit yang menangani masyarakat miskin. Meskipun sudah ada JAMKESMAS maupun JAMKESDA yang bisa masyarakat miskin gunakan untuk jaminan kesehatan mereka tapi pada kenyataannya hal seperti itu pun masih sulit di realisasikan. Sehingga sulitnya bagi masyarakat miskin mendapatkan pelayanan kesehatan yang baik.

e). Upaya pengetasan kemiskinan di indonesia

Seperti telah disinggung di atas bahwa kemiskinan merupakan suatu masalah yang kompleks yang tak terpisahkan dari pembangunan mekanisme sosial, ekonomi dan politik yang berlaku. Oleh karena itu setiap upaya pengetasan kemiskinan secara tuntas menuntut peninjauan sampai keakar masalah, jadi, memang tak ada jalan pintas untuk mengetaskan masalah kemiskinan ini. Penanggulanganya tidak bisa secara tergesa-gesa.

6. Langkah Mengatasi Masalah Kemiskinan

            Dalam Mengatasi masalah kemiskinan pemerintah perlu membuat ketegasan dan kebijakan yang lebih efektif dan tepat sasaran. Sehingga tidak ada kebijakan yang hanya menguntungkan hanya pada kaum penguasa melainkan kebijakan yang memprioritaskan kepentingan rakyat.. Menurut saya ada beberapa solusi yang bisa ditawarkan untuk mengatasi masalah kemiskinan, yakni :

a)      Menciptakan lapangan kerja yang lebih luas sehingga mampu menyerap banyak tenaga kerja sehingga bisa mengurangi presentase pengangguran dimana pengangguranb adalah salah satu penyebab kemiskinan. Namun sebelumnya harus dilakukan penyesuaian seperti mengadakan pelatihan yang untuk membekali masyarakat Indonesia yang pada dasarnya berbasis agraris menuju masyarakat madani.

b)      Memberikan subsidi pada masyarakat miskin dengan memperhatikan keefektifan dan tentunya tepat sasaran. Karna selama ini 80% subsidi untuk rakyat miskin tidak tepat sasaran. pada kebutuhan pokok manusia terutama rakyat miskin harus diperhatikan sehingga mereka mampu memperbaiki kualitas pangan mereka dan tentunya akan berpengaruh pada tingkat kesehatan masyarakat yang semakin meningkat tapi sekali lagi subsidi yang diberikan harus tepat guna dan tepat sasaran.

c)      Menjadikan Pancasila sebagai sumber nilai dan dasar moral kode etik bagi negara dan aparat pelaksana negara agar tidak menyalahgunakan kekuasaannya. Dimana sekarang ini banyak sekali praktik-praktik KKN di berbagai instansi pemerintah merajalela. Dimana keadaan yang demikian membawa ekonomi rakyat menjadi semakin terpuruk karna anggaran yang seharusnya digunakan untuk kepentingan rakyat digunakan untuk kepentingan pribadi.

d)     Pembenahan sistem birokrasi pada instansi-instansi pemerintah agar tidak bermentalkan skeptis-pragmatis. Karna menurut saya penting bagi sebuah negara untuk mempunyai sistem pemerintahan yang bermoral dan memahami posisi mereka sebagai orang yang akan membawa sebuah negara kearah yang lebih maju. Salah satunya mengentaskan masalah kemiskinan agar tidak berkelanjutan diperlukan sistem dan wakil rakyat yang tegas dan memuliakan rakyatnya sebagai seseorang yang harus mereka upayakan kesejahteraannya.

e)      Meningkatkan anggaran pendidikan, karna pendidikan adalah hal yang mendasari peningkatan kualitas SDM. Agar memperoleh kehidupan yang lebih baik. Secara tidak langsung membangun masyararakat Indonesia dengan cara mencerdaskan anak bangsa melalui pendidikan agar taraf kehidupan mereka meningkat yang secara otomatis akan mengurangi tingkat kemiskinan.

f)       Menggalakan program zakat. Dimana diindonesia mayoritas penduduknya beragama Islam. Dimana zakat sangat membantu terutama kaum fakir dan miskin. Sudah ada peraturan-peraturan zakat diindonesia. Tapi mungkin harus lebih digalakan agar lebih optimal realisasinya. Sehingga hak-hak rakyat miskin bisa tersalurkan dengan baik.

g)      Pembangunan sarana dan prasarana yang mendukung dalam peningkatan kualitas suatu negara Bukan hanya membangun gedung-gedung besar tapi pemerintah harus memperhatikan hal-hal kecil yang mampu membantu masyarakat misalnya pembangunan jalan yang telah rusak, jembatan dan dermaga yang telah terisolasi, menyediakan sarana irigasi, kebutuhan air bersih terutama pada daerah-daerah yang terisolasi senitasi dasarnya.

h)      Redistribusi sumber dana kepada daerah-daerah yang memiliki pendapatan rendah dengan instrumen dana alokasi khusus (DAK).

C. SIMPULAN DAN SARAN

Demikianlah yang saya bisa jelaskan disini tentang masalah kemiskinan, indikasi masalah yang mendasarinya, faktor-faktor yang menyebabkannya sampai pada solusi yang bisa saya berikan dalam masalah pengentasan kemiskinan. Pada dasarnya masalah kemiskinan tidak  hanya disebabkan kinerja pemerintah yang kurang optimal atau pengalokasian anggaran yang tidak tepat sasaran yang mengakibatkan subsidi-subsidi yang diberikan untuk membantu rakyat miskin  menjadi tepat guna. Tapi ada banyak faktor individual yang mendasari masalah ini salah satunya adalah bagaimana bagaimana prilaku dan kemampuan orang tersebut untuk merubah kemiskinannya.karena kebanyakan masyarakat hanya menunggu spekulasi atas subsidi dari pemerintah. Mungkin mental yang seperti ini dari jiwa manusia Indonesia harus segera diarahkan. Manusia Indonesia jangan mau miskin, karena kemiskinan itu mencekik. tentu peran pemerintah disini sangat dibutuhkan dan usaha dari individualpun berpengaruh untuk mengatasi masalah kemiskinan. Harus ada kerjasama yang sinkron antara pemerintah dan masyarakat itu sendiri agar mampu menciptakan manusia-manusia yang cerdas, berkualitas, memiliki pengharapan kehidupan yang lebih baik dan tentu kesejahteraan yang menjadi tujuan yang hendak dicapai bersama.

Masalah kemiskinan memang tidak pernah mendapatkan solusi yang benar-benar real yang diterapkan dalam kenyataannya sehingga menjadi masalah yang berkelanjutan. Manusia selalu mempunyai prioritas dalam kehidupannya, begitupun pemerintah. Prioritaskanlah masalah kemiskinan ini sebagai sesuatu yang harus segera mendapat perhatian khusus dari para kaum elite politik dan penguasa. Solusi yang memang benar-benar menguntungkan rakyat miskin untuk memperbaiki kualitas hidup mereka. Bukan hanya untuk kepentingan pribadi orang-orang yang mengatasnamakan diri sebagai wakil rakyat. Kemiskinan janganlah menjadi ironi yang membuat negeri ini tidak pernah pada tujuan yang hendak dicapai bersama. Dan masyarakat miskin harus memahami bahwa yang bisa merubah kemiskinan itu sendiri adalah dari diri mereka, upaya yang mereka sendiri meskipun tidak bisa dilepaskan dari peran pemerintah sebagai naungan mereka. Jadi, memulai reformasi dari diri sendiri terutama pada sistem pemerintahan di segala bidang.

DAFTAR PUSTAKA

Wahyudi, Untung. 2013. Mengentaskan Kemiskinan di Indonesia. Jakarta. [online] tersedia di http://news.okezone.com/read/2013/06/07/285/818487/mengentaskan-kemiskinan-di-indonesia

Art, Asry. 2013 . Contoh makalah kemiskinan di Indonesia. [online] tersedia di http://penabugis.com/contoh-makalah-kemiskinan-di-indonesia/  [ di akses April 13, 2013 at 11:12 am ]

Indonesia, BBC. 2009. Rantai Kemiskinan. [online] tersedia di http://www.bbc.co.uk/indonesia/laporan_khusus/2009/12/091127_poverty4.shtml

Wikipedia. 2013. Kemiskinan. . [online] tersedia di http://id.wikipedia.org/wiki/Kemiskinan [ di akses 16 Juni 2013]

Badruddin, Syamsiah. 2009. Kemiskinan Dan Kesenjangan Sosial Di Indonesia Pra Dan Pasca Runtuhnya Orde Baru.  [online] tersedia di
http://profsyamsiah.wordpress.com/2009/04/23/49/

Nasution, Arif Zulkifli. 2013. Kemiskinan. [online] tersedia di http://bangazul.blogspot.com/2013/05/kemiskinan.html

Catatan:

Woow, tulisan Iha amazing!  [ thanks for miss yosti for comment]
[iha albanna manhaj]

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s