‘Jalan yang Kita Pilih’

Oleh : Sutihat Rahayu Suadh   Bahagia itu selalu ada dan banyak macamnya, kita hanya perlu bersyukur dan menyadari bahwa kita selalu memilikinya–meski hanya dalam bentuk paling sederhana. Begitu kata orang-orang bijak. Kamu tahu? Dulu, saat melihatmu bahagia dari jauh, aku melanjutkan perjalananku. Entah apa yang aku cari, tapi kamu pergi atas kemauanmu sendiri, aku bisa apa.  Terluka,…

Tulisan : Pertemuan dan Jodoh

    Alloh sudah menggariskan padaku sebuah pertemuan, sebuah rasa, dan luka. Kini aku semakin yakin dengan janjinya, sekalipun doa itu ditempatkan dihati yang lain. Kau boleh pergi sekarang, aku akan melapaskanmu untuk sebentar menangis lalu aku akan tersenyum lega. Pernikahanmu tinggal menghitung bulan, semuanya telah ditetapkan ketika beberapa hari lalu, kau mengkhitbah seorang wanita…

Lelakiku

Oleh: Sutihat Rahayu Suadh Lelakiku , tak pernahkah kau menyadari seperti apa hujan yang turun membasahi bumi kita. Bumi yang pernah kita pijaki dengan langkah pasti menuju musim berikutnya. Dalam butiran bening yang langit hadiahkan pada semesta. kita menari dimusim ini, dimana wangi tanah basah menguap satu-satu seperti harapan kita. Hasrat hati kita merekah bak bunga-bunga….

Tentang ‘Jodoh’

Tulisan ini saya ambil dari akun Bang Fahd Pahdepie, seorang penulis yang bakat merangkai katanya luar biasa. Bang Fahd mengutip dari blognya penulis muda Azhar Nurun Ala, penulis Buku ‘Tuhan Maha Romantis’ dan ‘Seribu Wajah Ayah’ dan yang terbaru ‘Cinta dalam Perlawanan’. Saya suka sekali dengan dua penulis keren ini, suka dengan karya-karya mereka. Buku…

Seandainya…

  Oleh : Sutihat Ahmad Suadh Aku telah memilih jalan ini dan tidak bersama dengan kalian. Sejujurnya ada rasa kehilangan yang mendekap selama aku menapaki jalan baru atas keputusanku untuk memilih jalan hidupku yang lain. Bagiku hidup ini perjalanan menuju pulang, dan aku perlu tahu kebenaran atas apa yang kupikirkan. Meski  benturan dan jalan terjal…

Entahlah,

Sutihat Ahmad Suadh Seperti Tuhan menciptakan langit dan laut berwarna biru. Mereka indah. Aku melanjutkan perjalananku, dan lelaki itu hanya memandangiku dari kejauhan. Langkah kakinya tak bergerak sesentipun. Saat itu aku kecewa. Karena pada akhirnya mencintai bukan prihal memiliki perasaan yang sama, tapi melepaskan agar yang lain bisa bernafas. Aku masih memandang langit yang sama…

Perjalanan Menuju Tuhan

  Barangkali kamu lupa bahwa hidup kita adalah perjalanan. Kamu perlu tahu, bahwa sesuatu bisa berubah tak selalu sama. Kamu hanya mengenalku dimasalalu, tidak di saat ini. Bagaimana aku dalam ingatanmu hanyalah gadis kecil yang pemarah. Aku masih menyesali segalanya, saat langkah kakiku semakin jauh. Bagaimana perjalanan ini membuatku menjadi lebih kuat namun lebih dingin….

Kekhawatiran

Ada orang yang ingin mengajakmu masuk ke dalam dunianya, ke dalam dunia yang sepenuhnya asing bagimu, ke dalam masa depan yang penuh ketidakpastian. Sesaat kamu ragu, apakah dia adalah seseorang yang bisa kau percayai sepenuhnya, dimana kau bisa menyerahkan ketaatanmu kepadanya? Kau terus saja mengulang pertanyaan dalam bathinmu, akankah dia seseorang yang bisa kau ajak…

Aku dan Perasaan Kita di Sepanjang Perjalanan

oleh : Sutihat Ahmad Suadh Cinta yang kutahu, adalah menghormati. Maka jika kau bertanya prihal cinta, maka aku tak tahu jawabannya. Hanya saja jika kau menghormatiku, maka itu sudah cukup. Kita berjalan dengan impian kita masing-masing, mengabukan perasaan dalam sekeping tanya, yang hanya mampu dijawab oleh Tuhan. Memandang langit mendung disertai gerimis, tanganku menengadah merasakan setiap…

Perempuan di Tanah Pekat

  Oleh : Sutihat Rahayu Suadh Aku sedang menikmati wajah ayu yang tersundur kepahitan. Wajahnya masih sendu seperti pertama kali aku melihatnya bersama para pelayat dihujan pertama bulan juni. Ini sudah tahun ketiga aku melihatnya masih setia datang dengan balutan baju hitam pekat, dimatanya masih menyiratkan perasaan yang sama, perasaan yang tak bisa kubayangkan. Siapa…

Sebatang pohon yang sendiri

oleh : Sutihat Ahmad Suadh Sebatang pohon yang sendiri. Gerobak itu selalu penuh dengan sampah plastik dan tumpukan kardus. Tubuhnya yang tak lagi tegak menarik gerobak yang sudah 13 tahun bersamanya menyusuri jalanan. Sesekali dia beristirahat di samping toko retail setelah mengambil beberapa sampah yang sudah disiapkan oleh sang pemilik. Setiap pagi dan sore beliau lewat…

NAURA

oleh :Sutihat Rahayu Suadh Naura menjatuhkan tas ditangannya, matanya menatap tajam namun kembali tertunduk. Sena berjalan kearahnya dengan langkah pelan, kemudian tersenyum. “Sudah lama tidak bertemu, Naura ? Sapanya Naura hanya mengangguk, berusaha menyadarkan pikirannya. “Sudah tiga tahun..”desis Naura “Kau membaca semua buku dan surat yang kukirimkan ?” Ka Nura…….?”suara serempak anak-anak berlari kearah Naura…